Tak Berkategori

WHAT WE SAY – BANDA, THE DARK FORGOTTEN TRAIL

Director: Jay Subyakto

Starring: Reza Rahadian

Score: 8/10

Awalnya, tidak terpikirkan sama sekali kalau ini ternyata adalah film dokumenter. Melihat posternya saja, Banda nampak tidak kalah kece dengan poster-poster lain di sinema. Nuansa gelap justru semakin membuatnya menarik karena kesan elegan yang berkelas terpancar dengan jelas. Perasaan ini muncul di samping fakta kalau film memang menceritakan kekelaman yang pernah terjadi di sana. Reza Rahadian menjadi satu-satunya nama besar, itu juga sebagai narator. Sisanya, biar kepulauan rempah ini yang tampil memancarkan sinarnya sendiri.

banda 4

Sutradara Jay Subyakto coba melakukan hal yang terbilang sulit untuk diwujudkan oleh sebuah film bertema sejarah, yaitu menceritakan objek dengan timeline yang begitu panjang. Banda dimulai dari nol, sehingga bisa membuat orang yang gatau di mana itu Banda, menjadi tercerahkan. Film ini menceritakan sejarah Kepulauan Banda yang rumit, mulai dari legenda mengapa rempah bisa banyak tumbuh di sana hingga situasi masyarakatnya sekarang. Bagusnya, semua dibentangkan tanpa banyak memaparkan keterangan waktu. Jujur saja, salah satu momok pelajaran Sejarah pas zaman sekolah adalah kita harus menghafal begitu banyak tanggal, bulan dan tahun. Ini bisa membuat pusing, dan Banda tidak menginginkan hal itu terjadi. Mereka tidak menjadikan perincian waktu sebagai salah satu fondasi utama dan itu membantu kita untuk menikmati filmnya.

banda 3

Lantas apa yang menggantikan keterangan waktu sehingga film bisa berjalan dengan rapih? Penggambaran yang dibingkai dalam beberapa ruang waktu. Sangat terasa sekali bahwa Banda punya beberapa segmen. Pertama adalah perkenalan, lalu situasi Banda pada masa kolonial, situasi Banda beberapa tahun sebelum proklamasi, situasi Banda setelah proklamasi dan Banda pada masa kini. Segmen demi segmen diceritakan dengan smooth, to the point dan fokus. Penonton bisa mengerti sedang berada di mana mereka sekarang. Apakah di perkenalan, atau ketika Banda mulai digerogoti penjajah dan seterusnya. Tentu perencanaan alur cerita yang matang ini tidak akan mudah diserap jika peran narator disepelekan begitu saja. Reza Rahadian memberi pengaruh yang besar meskipun hanya lewat suara.

banda 7

Film juga tidak hanya menampilkan hal-hal positif seperti Banda yang dulunya sangat penting dan kaya. Mereka juga menceritakan masalah-masalah yang ada seperti pertumpahan darah, harga pala yang tidak semestinya, hingga kerusuhan berbau SARA. Masyarakat Banda digambarkan sebagai “Indonesia Mini” karena terdiri dari berbagai macam latar belakang. Di satu sisi, ini menjadi sentilan kecil untuk kita yang akhir-akhir ini suka ribut gara-gara agama. Namun, di sisi lain sutradara cukup berani untuk mengekspos pula ancaman yang datang dari keberagaman tersebut. Ancaman ini tentu bukan penduduk Banda asli yang katanya habis, melainkan ketakutan akan kehilangan jati diri kebudayaan Banda sendiri.

Kehilangan ini semakin kentara dengan musik yang melatari Banda. Begitu penuh dengan aransemen non-tradisional. Apakah ini disengaja agar film terlihat lebih pop dan akhirnya lebih mudah diterima penonton generasi muda? Tidak ada yang tahu. Hanya saja, musik yang diperdengarkan termasuk menegangkan dan membuatmu tetap melek sampai akhir.

banda 6

Apakah itu positif? Tidak juga. Jika dilihat dari peran narator-nya, Banda seperti dua film yang berbeda. Porsi Reza terlihat timpang. Di paruh pertama, Dia begitu dominan. Narator tidak hanya orang yang membuka, tapi juga menceritakan sebagian besar isi cerita dari satu segmen ke segmen lain. Narasumber hanya pelengkap. Beranjak ke paruh berikutnya, entah mengapa semua berbalik. Suara Reza mulai redup karena spotlight sudah berpindah haluan kepada para narasumber. Di sini narator lebih berperan sebagai pengantar. Efeknya, paruh kedua lebih berasa dari paruh pertama. Tidak ada yang lebih mendekatkan kita kepada film selain mendengarkan sendiri pemaparan dari mereka yang betul-betul tinggal di sana.

banda 2

Narator juga seringkali tidak didukung oleh gambar yang sesuai. Bukan berarti gambar yang ada di film jelek ya! Apa yang ditampilkan oleh Banda sungguh cantik. Namun, kerap kali tidak sesuai. Tidak jarang apa yang disuguhkan di layar tidak sama dengan apa yang sedang narator ceritakan. Terlalu banyak gambar yang tampil di paruh pertama. Akan lebih seru jika film juga lebih banyak menampilkan variasi footage seperti lukisan atau animasi-animasi yang menceritakan event yang sedang dibahas. Momen paling berkesan justru timbul dari treatment ini, yaitu ketika salah seorang narasumber menerangkan tentang eksekusi sadis VOC terhadap warga sipil yang membangkang. Saat melihat itu, Saya langsung bilang kepada diri sendiri, “Gue pengen yang ini jadi nyata!”. Saking keren-nya.

banda 5

Sah banget kalau ada tindakan lanjutan yang ingin Kamu lakukan setelah keluar dari studio. Entah itu dengan kembali membaca buku, atau mengadakan diskusi dan screening di sekolah-sekolah. Banda – The Dark Forgotten Trail lebih dari sekedar film yang hanya ingin menampilkan apa yang sebenarnya dimiliki oleh Bangsa Indonesia. Mereka juga berusaha untuk mengajak kita bertindak lebih jauh lagi. Maka dari itu, yuk kita dukung dengan menyebarluaskan karya ini ke sebanyak mungkin orang sebagai langkah awalnya.

@adam_sarga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s