Tak Berkategori

WHAT WE SAY – WAR FOR THE PLANET OF THE APES

war poster

Director: Matt Reeves

Starring: Andy Serkis, Karin Konoval, Toby Kebbell, Terry Notary, Judy Greer, Amiah Miller, Steve Zahn, Woody Harrelson

Score: 9/10

“I do not start this war, my friend koba start this. But I will finish it.”- Caesar

War for the Planet of the Apes adalah film ketiga dari proyek reboot ‘Planet of the Apes’ yang rilis pertama kali tahun 1968. Film pertama dari hasil adaptasi karakter rekaan Rick Jaffa dan Amanda Silver ini berjudul Rise of the Planet of the Apes (2011) yang disutradarai oleh Rupert Wyatt. Matt Reeves kembali menyutradarai film ini setelah berhasil mendapatkan respon positif dari kritikus pada sekuel pertamanya, Dawn of the Planet of the Apes (2014). War for the Planet of the Apes sebelumnya juga telah diduga akan menjadi akhir dari trilogi Caesar dalam Planet of the Apes.

Caesar (Serkis) berhasil membawa kabur kaumnya dari kejaran tentara dua tahun setelah peperangannya melawan Koba (Kebbell). Kini, sang Kolonel (Harrelson) memburu kaum kera cerdas itu untuk mempertahankan spesies manusia di planet ini. Sang pemimpin koloni hutan utara San Francisco itu tentu saja tidak menginginkan konflik lebih lanjut dengan kaum manusia yang terancam punah. Namun, sebuah tragedi membuat Caesar menginginkan pembalasan dendam terhadap apa yang telah Kolonel lakukan kepada dirinya. Maka dari itu, selagi misi evakuasi menuju rumah baru kaum primata cerdas itu berjalan, Caesar justru meninggalkan kaumnya untuk mengejar pemburu kera tersebut.

maxresdefault

Tentu saja, beberapa kaki tangan setia Caesar tidak akan tega meninggalkan pemimpin mereka menuju peperangan sendirian. Maurice (Konoval), Luca (Adamthwaite) dan Rocket (Notary) bersedia menemani. Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan gadis kecil tuna wicara yang kemudian dirawat oleh Maurice. Bad Ape, seekor simpanse cerdas yang berhasil melarikan diri dari kebun binatang 15 tahun lalu, juga ikut bergabung bersama kelompok Caesar ke dalam perang. Tak hanya itu, Caesar juga harus berkelut melawan hati nuraninya ketika Maurice mulai menyadari bahwa lambat laun, sifat pemimpinnya ini semakin mirip dengan Koba.

Situasi makin kacau saat Caesar mengetahui bahwa kaumnya telah tertangkap dalam perjalanannya menuju wilayah aman. Ia dan kaumnya semakin disiksa oleh Kolonel yang memimpin peperangan tersebut. Hasrat kebencian sang kera pun semakin memuncak. Caesar diuji dalam sebuah pergulatan batin tentang mana yang harusnya diprioritaskan, pembalasan dendam atau keselamatan kaumnya. Perang antara kaum manusia dan kera yang akan menentukan masa depan planet ini pun kian memanas.

gallery5-gallery-image

Dawn of the Planet of the Apes merupakan sebuah bukti bahwa Matt Reeves cocok untuk mengarahkan film ini menuju ke sisi kelam kehidupan kaum kera. Setelah berhasil memanaskan tensi emosi dalam pertarungan akhir Caesar melawan Koba, Reeves coba memperdalam kembali sisi kemanusiaan Caesar. Film ini lebih diarahkan ke dalam pergumulan insting terdalam Caesar itu sendiri. Ditambah dengan banyaknya situasi yang dibuat, baik untuk mendukung pembalasan dendam Caesar, maupun keadaan yang akan membuat kembali sifat Caesar lebih manusiawi.

Seperti dua film sebelumnya, War for the Planet of the Apes juga dibuat menggunakan teknologi performance capture yang merekam gerakan dan emosi aktor manusia menuju karakter animasi. Akibatnya, peran aktor dalam film ini tidak sekedar tempelan belaka. Andy Serkis benar-benar menunjukkan keahliannya sebagai aktor performance capture yang handal! Hal ini ditampilkan lewat ekspresi Caesar yang terasa sangat real dalam menghadapi setiap dilema. Begitu pula dengan aktor performance capture lainnya yang telah mengikuti teknis ini dari awal dibuat ulangnya Planet of the Apes.

Para aktor mulai mengerti kalau performance capture tidak ada bedanya dengan akting menggunakan kostum dan make up. Mereka tidak mewakili karakter yang mereka perankan, namun mereka menjadi karakter tersebut.” – Andy Serkis

WAR FOR THE PLANET OF THE APES

Tidak hanya dalam sisi penyutradaraan dan karakter CGI saja yang bagus, naskah yang Reeves tulis bersama Mark Bomback juga diisi dengan beragam bahasa isyarat yang simpel, namun mengandung makna yang menyentuh hati penontonnya. Terutama hubungan antara Maurice dan gadis kecil yang bernama Nova. Sejujurnya, meski peran Nova tidak seekstrem karakter manusia baik pada film-film sebelumnya, namun kehadiran gadis tersebut justru membuat film ini lebih kaya akan sisi emosional dalam pergumulan nurani Caesar.

Sosok villain yang diperankan Woody Harrelson pun berbeda dari dua villain sebelumnya. Karaketer Kolonel rupanya tidak hanya sesadis dan sekuat yang diceritakan tentaranya sejak awal film. Mereka membuat background hidup karakter tersebut yang tidak jauh berbeda seperti kehidupan Caesar saat ini. Sebuah luka yang terus menghantui Kolonel rupanya membuat Caesar mulai berpikir tentang mana yang harus diprioritaskan, balas dendam atau keselamatan kaumnya.

untitled

War for the Planet of the Apes bukan hanya film yang menjual perang biasa. Film ini juga kaya akan emosi dan pergumulan nurani. Jadi, sah saja bila ini adalah yang terbaik dalam trilogi reboot ‘Planet of the Apes’. Bagaimana seekor hewan primata bisa memiliki sisi kemanusiaan yang lebih baik daripada manusia itu sendiri, melawan hasrat terdalamnya, dan menjadi diri yang lebih kuat dari sebelumnya.

@arifrubbiyanto

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s