Tak Berkategori

WHAT WE SAY – DESPICABLE ME 3

Director: Pierre Coffin, Kyle Balda

Starring: Steve Carrell, Trey Parker, Kristen Wiig, Miranda Cosgrove, Dana Gaier, Nev Scharrel

Score: 6.5/10

This franchise is getting tired.

Berhasil meraup 1.5 triliun USD dari seluruh dunia dan terus berlanjut hingga sekarang, jelas kalau Despicable Me merupakan “ladang duit” baru untuk Universal Studios. Maka dari itu, di film ketiga mereka melipatgandakan semuanya; lebih banyak Gru, lebih banyak Minions, lebih banyak original soundtrack dari Pharrell, dan lebih banyak masalah. Semua digelontorkan agar Despicable Me 3 terlihat epik dan bisa menggaet lebih banyak lagi penonton anak-anak dan dewasa. Tapi, tentu tidak semudah itu untuk mewujudkannya.

Gru (Carrell) kini diceritakan memiliki seorang istri dan sudah bekerja di Anti Villain League (AVL). Saat bertugas, Gru membiarkan seorang penjahat bernama Balthazar Bratt (Parker) lolos sehingga dia dan Nancy dikeluarkan dari AVL oleh pemimpin yang baru. Menjadi pengangguran, Gru mendapat informasi kalau ternyata dia memiliki seorang saudara kandung, dan ayahnya baru saja meninggal (selama ini Gru mengira ayahnya sudah lama wafat). Maka pergilah Gru, Nancy dan anak-anak mereka ke Freedonia untuk menemui Dru (Carrell lagi). Godaan semakin menyudutkan Gru karena Dru mengajaknya kembali menjadi penjahat. Di tempat lain, Balthazar berhasil mencuri sebuah berlian yang sebelumnya diamankan Gru, ketika masih menjadi anggota AVL.

Setidaknya ada empat poin penting yang harus dipahami. Bagaimana Gru bersikeras untuk tetap menjadi orang baik meskipun cobaan datang dari orang-orang terdekat, lalu bagaimana Nancy bisa beradaptasi dengan status barunya sebagai seorang ibu. Belum lagi, hubungan Gru dan Dru yang bertolak belakang, dan ancaman Balthazar Bratt yang mau balas dendam kepada Hollywood. Semua dicampur sehingga Despicable Me 3 diceritakan dengan sangat terburu-buru. Mereka terlanjur memasukkan banyak hal sehingga kehilangan arah. Akhirnya, tidak ada yang bisa dinikmati selain usaha Gru (dan Dru) dalam menghentikan Balthazar. Nilai-nilai lain seperti persaudaraan dan parenting menjadi kabur karena konflik yang terjadi dalam koridor ini diselesaikan begitu saja. Sebetulnya ada satu yang bisa dikembangkan, yaitu perasaan Dru yang dinilai tak berbakat oleh ayahnya, lalu Gru yang merasa disia-siakan oleh ibunya. Kesamaan latar belakang ini bisa membuat ikatan persaudaraan mereka lebih berasa. Sayang, sepertinya itu masih disimpan untuk film berikutnya.

Sudah ceritanya yang “all over the place”, Despicable Me 3 juga diperparah oleh karakter-karakter baru. Mereka terlihat menjijikan dengan gaya dan perilaku yang mengganggu. Balthazar Bratt adalah mantan bintang cilik tahun 80-an yang diabaikan Hollywood ketika beranjak remaja. Karakter ini, dengan penampilan, atribut dan style bertarungnya, merusak imajinasi tentang bagaimana kerennya pop culture di era 80-an. Apakah musisi dan bintang film pada masa itu terlihat seaneh ini? Well, kehebohan Balthazar mungkin bisa dimaklumi oleh penonton dewasa, tapi apakah anak-anak akan ikut menerimanya juga?

Lain halnya dengan Dru. Menjadi saudara yang tiba-tiba muncul, Dru ditampilkan dengan pas yaitu memiliki sifat ceria dan aura positif yang tidak dimiliki oleh Gru. Walupun begitu, bukan berarti hal ini yang paling ditonjolkan. Sepanjang film, Dru berinteraksi dengan Gru lewat segala guyonan dan kekonyolannya. Di awal, cara ini memang berhasil menarik perhatian. Namun kita jadi ikut terganggu karena Dru ternyata sungguh menjengkelkan. Tidak ada satu pun keahlian atau bakat terpendam yang jelas terlihat selain kekayaan Dru. Semoga saja karakter ini terus berkembang, dan hubungannya dengan Gru semakin diasah. Perbedaan cara pikir antara kakak-beradik ini masih ada hingga akhir cerita, dan itu bisa diolah menjadi sesuatu yang menyegarkan. Tersirat Gru adalah orang baik yang punya sisi gelap mematikan, sedangkan Dru adalah orang jahat yang sebetulnya berhati lembut.

Thank god they have creatures named Minions. They save this movie! Kembali tampil di posisi aslinya sebagai pemeran pendukung, Minions menunaikan tugasnya dengan baik. Mereka masih bikin penonton tertawa, sekaligus memberikan waktu rehat sejenak dari segala tetek-bengek permasalahan yang ada. Minions bukan tipe karakter yang bisa mengangkat sebuah film sendirian. Mereka bekerja secara kolektif dan membuat kejutan yang efektif. Sutradara Pierre Coffin dan Kyle Balda paham betul akan hal ini dan mereka kembali membuat Minions menjadi salah satu sidekick terbaik lewat aksi-aksi yang ditampilkan.

Cukup kecewa karena ceritanya yang riweuh dan tidak semuanya dibayar tuntas. A lot of things happened in just one movie. Tapi setidaknya, Despicable Me 3 masih lumayan menghibur dan sepertinya belum menunjukkan tanda-tanda pensiun. Ending-nya dibuat terbuka, dan banyak juga yang bisa dipelajari seiring berjalannya waktu. Sudah saatnya franchise ini tumbuh menjadi sedikit lebih dewasa karena sadar atau tidak, mereka menunjukkannya. Cukup di sini saja sisi emosional terbuang sia-sia hanya untuk lelucon yang dianggap jenaka.

@adam_sarga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s