Tak Berkategori

WHAT WE SAY – IN THIS CORNER OF THE WORLD

Director: Sunao Katabuchi

Starring: Rena Nonen, Yoshimasa Hosoya, Minori Omi, Megumi Han, Natsuki Inaba

Score: 9.3/10

Kabar baik untuk para moviegoers, khususnya penyuka animasi. Summer movies tahun ini ternyata diisi oleh film-film yang cukup beragam. Tidak hanya didominasi oleh kartun Hollywood, bioskop juga mendatangkan anime baru berjudul In This Corner of the World. Disutradarai oleh Sunao Katabuchi, film ini merupakan adaptasi dari serial manga berjudul To All The Corners of the World tahun 2007. Khusus versi layar lebarnya, Sunao melakukan riset mendalam. Majalah EMPIRE edisi Juni 2017 menulis kalau dia menghabiskan waktu selama lima tahun untuk mempelajari dokumen zaman perang secara teliti. Hasilnya sungguh mengagumkan. Lewat penggambaran yang akurat, ditambah unsur emosional yang kuat, In This Corner of the World memenangi banyak penghargaan. Tidak hanya itu, film ini juga sukses di Box Office domestik karena begitu populer. Situs Box Office Mojo memperkirakan pada bulan Mei 2017 bahwa jumlah pendapatan film dari dalam negeri-nya saja bisa mencapai 19,3 juta USD. Mereka sanggup bertahan di peringkat 10 besar selama lebih dari dua minggu, dan banyak pula bioskop yang mengadakan show tambahan.

Berlatar Perang Dunia 2, In This Corner of the World mengikuti perjalanan seorang wanita muda bernama Suzu Urano (Nonen). Berasal dari Eba – Hiroshima, Suzu digambarkan sebagai sosok yang menarik hati, manis, dan terkadang suka melamun. Tapi dari semua itu, satu hal yang paling menonjol adalah keahlian Suzu dalam menggambar. Nah, suatu hari Suzu dilamar oleh Shusaku Hojou (Hosoya) dan harus pindah ke Kure, tempat yang juga sangat dekat dengan basis Angkatan Laut Jepang. Dia kemudian berusaha untuk menyesuaikan diri dengan status dan kehidupan barunya, yang mana sangat berbeda dibanding masa-masa di Eba. Satu hal yang tetap sama, Suzu masih hidup di zaman paling rusuh dalam sejarah Jepang.

Satu ciri khas yang menjadi favorit dari film ini adalah bagaimana mereka menampilkan sisi unik dari Suzu dengan baik. Sebagai orang yang jago menggambar, bakat Suzu bisa kita lihat secara jelas, bahkan bisa kita selami! Sutradara Katabuchi dengan lihai menggabungkan skill dan visualisasi dari Suzu, yang kemudian dimasukkan ke dalam beberapa scene. Ini merupakan pendekatan yang tidak hanya terlihat artsy, namun juga cantik sekali. Khusus ketika Suzu melindungi keponakannya saat terjadi serangan udara pertama dari Amerika, In This Corner of the World mengubah beberapa hal dengan tampilan warna-warna yang kontras. Alih-alih “jaka sembung”, cara ini sukses mendekorasi sekuens menjadi tidak terlalu keras untuk dilihat. Kombinasi warna ini pun semakin menjelaskan kalau ini adalah gambaran yang Suzu rasakan, dan berperan penting sebagai penghubung yang diperlukan antara babak pertama dengan babak kedua.

Yap! Film ini terbagi menjadi dua babak, yaitu sebelum dan saat perang merusak kehidupan Suzu secara brutal. Sebelum semua itu terjadi, film ini memperkenalkan para karakter penting terlebih dahulu, sekaligus men-set up cerita yang berpusat pada kehidupan sehari-hari. Art director Kosuke Hayashi dan illustration director Hidenori Matsubara berhasil membuat sebuah time capsule dan mentransfer penonton ke tahun 1933 lewat penggambaran yang walaupun tidak terlihat “wah”, tapi kaya akan detil. Penampilan ini ditambah dengan gaya animasi old school yang semakin menguatkan kesan sederhana.

Anyway, berubahnya status Suzu menjadi seorang istri membuat dia harus melakukan banyak hal. Menarik untuk dilihat bagaimana Suzu mengatasi tantangan tersebut, mengingat dia kini sudah tidak bisa seenaknya menggambar lagi. Di sinilah Suzu dipertemukan oleh Keiko (Omi), saudara perempuan Shusaku. Sifat yang galak dan sinis terkadang menjadi ancaman tersendiri. Namun kedepannya, karakter ini juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Suzu dan Keiko adalah dua karakter wanita yang hebat. Bedanya, jika Suzu terkesan lemah lembut dan selalu tersenyum, Keiko lebih tegas dan kuat. Khusus untuk Keiko, karakteristik ini timbul akibat perjuangan masa lalu, dan akan terus berkembang seiring berjalannya waktu.

Masuk ke babak berikutnya yaitu serangan Amerika terhadap Jepang. In This Corner of the World memperlihatkan situasi perang dari sudut pandang masyarakat sipil, khususnya dari mata kepala Suzu sendiri. Nuansa film langsung berubah drastis menjadi kesuraman yang hakiki. Walaupun ini film animasi, kengerian dan ketegangan layaknya film perang versi live-action bisa penonton rasakan di sini. Bagi Suzu yang innocent, menyaksikan perang sedekat ini adalah pengalaman yang tidak menyenangkan. Yang paling parah? Dia harus rela mengalami banyak kehilangan dan merasakan trauma dari orang-orang terdekat. Setelah perang berakhir, kesabaran agar bisa bertahan membuat film kaya akan nilai kemanusiaan. Pengampunan dan kemurahan hati adalah hal yang memungkinkan orang biasa dapat bangkit dari keterpurukan. Selain itu, kekuatan cinta membuat ujung dunia ini menjadi kembali nyaman dengan cara yang menakjubkan.

@adam_sarga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s