Tak Berkategori

WHAT WE SAY – THE WALL

Director: Doug Liman

Starring: Aaron Taylor-Johnson, John Cena, Laith Nakli

Score: 7.8/10

Ber-budget 3 juta USD, The Wall adalah film yang sebagian besar bersandar pada kemampuan sutradara dan timnya untuk menciptakan suasana intense yang efektif. Film ini hanya dibintangi oleh dua aktor; Aaron Taylor-Johnson dan John Cena. Lokasi syuting-nya pun hanya satu, yaitu di gurun daerah Lancaster-California. Bagaimana sutradara Doug Liman bisa memanfaatkan amunisi yang dia punya agar membuat film ini jadi lebih menarik? Well, salah satunya dengan memunculkan sosok musuh yang sangat kuat dan tak kasat mata.

Ditulis oleh Dwain Worrell, skrip The Wall menjadi original speculative screenplay pertama yang dibeli oleh Amazon Studios. Berlatar tahun 2007, Perang Irak dinyatakan berakhir dan kini pemerintah AS berfokus pada pembangunan negeri. Alkisah, Sersan Shane Matthews (Cena), dan Sersan Allen “Ize” Isaac (Taylor-Johnson) ditugaskan untuk menginvestigasi sebuah konstruksi yang berada di tengah gurun Irak. Setelah mengamati selama 22 jam dan memutuskan kalau area tersebut aman, Sersan Matthews turun untuk mengambil radio dari para kontraktor dan penjaga yang tewas. Mengejutkan, Sersan Matthews tertembak. Ize yang kaget langsung berusaha menyelamatkan Sersan Matthews. Sayang, dia juga tertembak dan akhirnya harus berlindung di balik sebuah tembok ringkih. Mulai dari sana, dimulailah “permainan mematikan” antara Ize dan “Si Sniper Misterius”.

Kalau berbicara mengenai penuansaan, The Wall akan menerormu dengan pasti. Walaupun skala-nya kecil, film ini masih bikin deg-degan karena adanya pembatas yang nyata antara si baik dan si jahat. Parahnya, kondisi dari pembatas yang hanya berupa sebuah tembok bata ini cukup memprihatinkan. Ibarat kata, kalau didorong juga roboh! Situasi yang tidak menguntungkan ini semakin parah dengan tidak terlihatnya wujud musuh. Dia hanya tampil mengintimidasi lewat suara yang terdengar dari radio. Jelas sudah kalau sniper ini bukan warga sipil ecek-ecek, tapi seorang profesional terlatih. Orang ini bisa menembak dari jarak yang jauh, tapi sangat tepat sasaran. Lawan yang sulit untuk dijatuhkan oleh mereka yang terluka parah seperti Ize dan Sersan Matthews.

Meskipun begitu, Ize tak pantang menyerah. Berbekal botol minum yang bolong dan antena yang rusak, dia nekat untuk mengambil tindakan berbahaya. Di sini Doug sadar, permainan harus diwujudkan secara real, mengingat posisi antara kedua belah pihak sudah sangat timpang. Maka dari itu, dia hanya memanfaatkan alam sebagai alat bagi Ize untuk membalikkan keadaan. Anyway, hal lain yang membuat The Wall semakin nyata adalah kondisi fisik dan mental prajurit. Kamu bisa melihat dengan jelas bagaimana luka yang mereka terima, dan seberapa berat tekanan psikologis yang diderita ketika semua hal buruk bercampur menjadi satu.

Namun, apa yang terjadi di luar itu adalah cerita yang kurang menarik. Selain adu mulut yang terjadi antara Ize dan musuhnya, film berusaha untuk memberikan warna lain dengan memasukkan unsur drama kemanusiaan. Lewat radio, sang musuh ingin “berkenalan” terlebih dahulu dengan Ize. Dia mau tahu seberapa besar ikatan yang terjalin antara Ize dan teman-temannya. Seharusnya ini bisa dimanfaatkan dengan baik agar The Wall memiliki sesuatu yang beda. Sayang, apa yang diceritakan masih belum cukup membuat penonton mengerti dan bersimpati terhadap Ize.

Akibatnya cukup fatal. Tidak ada sesuatu yang lebih dari diri Ize sehingga sulit untuk bisa menyatu dengannya. Ize tak ubahnya seorang prajurit biasa yang berada di ambang kematian. Apa yang dia lakukan untuk bertahan adalah skill yang memang harus dimiliki oleh semua prajurit. Tidak ada motivasi ekstra baginya selain agar bisa tetap hidup. Ini menjadi titik terlemah film, sebelum Doug kembali menghajarnya dengan adegan aksi demi menjatuhkan sniper misterius ini.

Aaron Taylor-Johnson tampil prima selama 90 menit. Secara fisik, dia harus merunduk, merayap, sampai diterpa badai pasir hingga wajahnya gosong dan berdebu. Lebih dari itu, dia bersama John Cena juga dituntut untuk memunculkan hubungan yang erat dan dapat dipercaya antara Ize dan Sersan Matthews di medan perang. Bagusnya, di awal film penonton langsung bisa merasakan ke-sohib-an ini lewat percakapan yang mengalir dengan baik, disertai oleh beberapa jokes receh. John Cena juga tampil oke. Walaupun screen time-nya tidak banyak, dia masih bisa menonjol, terutama lewat sifat humor dari karakter Sersan Matthews.

The Wall menempatkanmu persis di tengah peperangan yang ditampilkan secara minimalis. Film ini bukan soal obral peluru, tapi lebih kepada pengambilan tindakan yang jitu. Sayangnya, sisi humanis yang semu justru membuat film ini tertipu.

@adam_sarga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s