Tak Berkategori

WHAT WE SAY – THE MERCILESS

Director: Byun Sung-hyun

Starring; Yim Si-wan, Sul Kyung-gu, Jeon Hye-jin, Kim Hie-won

Score: 8/10

Korea Selatan dikenal sebagai salah satu negara yang rajin memproduksi film untuk masyarakat global. Buktinya adalah keikutsertaan mereka di Cannes, setidaknya untuk tahun ini. Memanfaatkan absennya film-film blockbuster Hollywood, “Negeri Gingseng” menyerbu Cannes 2017 lewat lima film yang mereka rilis di beberapa kategori berbeda. The Merciless salah satunya. Film ini diputar di seksi “Midnight Screening”, yang tahun lalu membuat Train to Busan menjadi film yang disukai kritikus dan juga sukses secara komersil. The Hollywood Reporter mencatat, bertepatan dengan perilisannya di Cannes, The Merciless sudah  berhasil terjual ke 85 negara. Perancis akan memutarnya pekan depan, sedangkan Indonesia mendapat kesempatan untuk memutarkannya mulai Kamis ini (1/6).

Mengusung gaya “Korean Noir”, The Merciless memotret kehidupan gangster yang penuh dengan pengkhianatan. Pusat ceritanya terletak pada hubungan antara seorang anak muda bernama Jo (Si-wan) dengan kriminal kelas kakap yaitu Han (Kyung-gu). Pertama kali bertemu di penjara, hubungan Jo dan Han semakin akrab, apalagi setelah tragedi yang menimpa Jo. Bebas dari penjara, Jo dan Han saling back-up dengan menjalankan bisnis obat-obatan terlarang bersama bos mereka, Chairman Ko (Hie-won). Di tempat lain, gerak-gerik ini sedang diamati oleh sekelompok polisi yang dipimpin oleh Chief Cheon (Hye-jin). Berbagai strategi dan tipu daya digunakan oleh ketiga belah pihak. Kepercayaan  antara Han dan Jo diuji lewat rentetan kejadian dan rahasia yang terungkap.

Kalau dilihat dari idenya, The Merciless sebenarnya biasa-biasa saja. Tidak ada yang ‘wah’ karena “trust issue” adalah bumbu yang kerap ada di setiap film gangster. Bromance antara Jo dan Han yang layaknya “mentor dan mentee” juga bukan barang baru. Bedanya, gaya penceritaan yang tidak beraturan, adegan-adegan aksi dan sinematografi mumpuni membuat film ini punya daya tariknya sendiri.

Kami sarankan jangan sampai telat menonton, dan juga hilang fokus karena kelakuan The Merciless seperti tokoh Nightcrawler-nya X-Men! Dari awal hingga pertengahan masa, film ini gemar sekali berpindah-pindah latar waktu. Apa yang kamu lihat di scene pembuka saja sebenarnya bukanlah awal dari yang sesungguhnya. Paruh pertama sangat berfokus pada relasi Jo dan Han yang disambungkan dengan kepentingan kelompok Chairman Ko. Tujuan karakter Jo yang misterius dan Han yang super ambisius akan dibuka secara perlahan. Tingkat percaya antara mereka berdua juga semakin kuat seiring waktu berjalan.

Untuk bagian akhir, The Merciless berubah total. Film gangster ini menjadi aksi balas dendam yang bersifat personal. Sutradara Byung Sung-hyun mengarahkan film lebih kepada pergulatan batin dua karakter utamanya. Tidak ada lagi kejutan, atau kesempatan dari karakter manapun untuk memainkan kartunya karena puzzle sudah tersusun rapih. Tinggal bagaimana pihak yang terluka menghabisi lawan-lawannya, sembari pihak lain memberi tahu alasan yang membuatnya jadi seperti ini. Film tidak melupakan konsep awalnya yaitu tentang kepercayaan. Nilai moral yang selalu dijadikan bahan mainan kini diselesaikan dengan cara yang keras. Walaupun mudah untuk dibaca, ini adalah langkah yang cukup tepat mengingat otak kita sudah dikuras habis untuk menerjemahkan alur cerita dari peristiwa-peristiwa sebelumnya.

Mengantongi rating 21 tahun ke atas, The Merciless dipenuhi banyak adegan kekerasan. Kekacauan ini didukung tidak hanya oleh rentetan aksi mengesankan, tapi juga penuansaan yang tajam. Performa hebat dari Sul Kyung-gu yang licik dan initmidatif, kemudian penggambaran “Korean Underworld” yang oke berhasil memunculkan rasa tidak nyaman. Di samping itu, sinematografi jadi nilai plus di sini. Saat keributan besar terjadi, salah satu pengambilan gambar terlihat cukup unik yaitu dengan menggerakkan kamera dengan lebih luwes. Alih-alih menyorot close-up anggota geng yang sedang dipukuli, sinematografer Cho Hyung-rae lebih memilih untuk bereksperimen dengan menjadikan kamera seperti bola yang sedang berputar di dalam ruangan. Di beberapa waktu, kamera juga menjadi mata dari orang pertama dan ini membuat perkelahian jadi lebih mengasyikkan.

The Merciless memiliki cerita yang sesungguhnya cukup berisiko, apalagi untuk dibawa ke festival sekelas Cannes. Namun, hal ini tertutupi dengan bagaimana cara mereka mengeksekusi hal standar tersebut. Kuncinya adalah mantra yang diberikan Han: “Don’t trust people, trust the circumstances.”

@adam_sarga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s