Tak Berkategori

WHAT WE SAY – ZIARAH

z poster

Director: BW Purbanegara

Starring: Ponco Sutiyem, Rukman Rosadi, Ledjar Subroto

Score: 9.2/10

Jujur, ini merupakan film Indonesia yang paling ditunggu-tunggu tahun ini! Banyak dari teman-teman jurnalis atau blogger yang sudah lebih dulu menonton Ziarah, tidak sungkan-sungkan mengutarakan kekaguman mereka. Makin penasaran lagi setelah Saya gagal menontonnya di acara Plaza Indonesia Film Festival: Love Philosophy, Februari lalu. Makanya, ketika tahu kalau film ini mendapatkan tanggal rilis resmi di bioskop reguler, senangnya bukan main.

z 1

For Your Information, Ziarah adalah film dengan segudang penghargaan, baik itu yang bersifat lokal maupun internasional. Yang terbaru adalah “Best Screenplay” dan “Special Jury Award” di ajang ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) di Kuching – Malaysia. Khusus untuk kategori “Special Jury Award”, dewan juri memberi penghargaan karena penampilan luar biasa Mbah Ponco Sutiyem yang sudah berusia 95 tahun. Bagi Mbah Sutiyem sendiri, prestasi ini melengkapi catatan keberhasilan pribadi lainnya di mana Beliau juga masuk nominasi “Aktris Terbaik” di ajang yang sama.

z 7

Pada dasarnya, Ziarah bercerita tentang sesuatu yang ringan, dekat dan universal yaitu cinta. Mbah Sri (Sutiyem) adalah seorang nenek yang hidup dalam kesepian. Sejak Agresi Militer II, Mbah Sri ditinggal pergi sang suami. Setelah mendengar kabar kalau makam suaminya kemungkinan berada di sebuah tempat, Mbah Sri nekat mencari makam tersebut seorang diri. Perginya Mbah Sri mengagetkan cucunya, Prapto. Karena khawatir dan kebetulan memang sedang ada perlu dengan yang bersangkutan, Prapto kemudian berangkat untuk menyusul Mbah Sri.

z 2

Sangat menyenangkan untuk melihat bagaimana sesuatu yang tidak disangka bisa diolah sedemikian rupa, walaupun dengan penampilan sederhana. Ziarah adalah bentuk kesetiaan yang luar biasa, dengan taburan misteri di dalamnya. Sutradara BW Purbanegara menabrak aliran mainstream dengan membuat penonton untuk ikut hanyut dalam pencarian yang terus berlanjut. Kita dengan tenang akan mengikuti petunjuk demi petunjuk yang mulai terbongkar. Selain menambah rasa penasaran, secara cerdik hal ini juga menunjukkan sisi lain pencarian. Jelas jauh dari kata “membosankan”.

z 5

Sisi lain yang tadi dimaksud adalah sejarah. Lewat dialog yang seluruhnya menggunakan Bahasa Jawa, film ini dengan jelas menampilkan beberapa hal yang mungkin belum kita ketahui dari masa Agresi Militer. Jika dikaitkan dengan Mbah Sri, penonton dapat menyadari kalau penilaian kita terhadap seseorang itu berbeda-beda. Bagi Mbah Sri, suaminya adalah seorang pejuang kemerdekaan. Tapi, bagaimana dengan pendapat karakter-karakter lain? Nah, perbedaan sudut pandang yang berlatarkan pada sejarah bangsa ini yang membuat Ziarah mempesona apa adanya. Poin ini berhasil ditransfer dengan cara menjadikan pencarian makam suami Mbah Sri sebagai bingkai utama. Well, sesuatu yang besar selalu diawali dengan hal kecil, bukan?

z 9

Hal-hal teknis menambah kesan “nyekar” film, yang mana tidak lepas dari budaya tradisional Jawa. Musik pengiring yang khas membuat penuansaan film menjadi gelap dan meresap. Selain itu, panorama alamnya yang terdiri dari sawah, pegunungan dan rumah tradisional di perkampungan juga terlihat menyejukkan. Tidak ada satu pun scene yang terlihat seperti iklan sisipan kementrian. Terakhir, beberapa adegan yang turut melibatkan benda keramat menjadi kunci sakti kisah ini. Gabungan dari tiga poin tadi memberikan salah satu keajaiban sinema: efek hipnosis skala raksasa.

z 6

Tanpa nama besar di jajaran pemeran, Ziarah dengan berani bertumpu pada Mbah Ponco Sutiyem. Bukan tugas mudah bagi sutradara untuk mengarahkan Mbah Sutiyem, mengingat pengalamannya masih minim. Namun, yang terjadi justru di luar dugaan. Kepada Kompas, Mas Bewe mengungkapkan kalau Mbah Ponco pandai berimprovisasi karena relasi yang kuat antara kisah hidupnya dengan cerita filmnya. Kehadiran Rukman Rosadi sebagai Prapto juga berhasil membuat film lebih dinamis. Sebagai pemeran pendukung, motif Prapto dalam mencari Mbah Sri terlihat jelas sehingga karakternya bukan sekedar aji mumpung. Anyway, jangan remehkan peran Ledjar Subroto dan siap-siap melihat akting Hanung Bramantyo yang datang sebagai cameo.

z 10

Ziarah menghadirkan warna baru untuk tontonan kita di sinema. Cerita yang tidak biasa, alur yang tersusun rapih, penuansaan yang top, dan penampilan para pemeran yang hebat membuatnya istimewa. Bukannya ngelunjak, tapi film-film macam ini harusnya mendapatkan kesempatan tayang yang lebih banyak dan terbuka. Sudah seharusnya penonton kita belajar untuk menikmati film sebagai karya yang sesungguhnya. Jangan hanya disodori hiburan mainstream saja.

@adam_sarga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s