Tak Berkategori

WHAT WE SAY – KING ARTHUR: LEGEND OF THE SWORD

arthur poster

Director: Guy Ritchie

Starring: Charlie Hunnam, Jude Law, Djimon Honsou, Astrid Berges-Frisbey, Eric Bana, Aidan Gillen, Kingsley Ben-Adir, Craig McGinlay, Annabelle Wallis

Score: 8.2/10

Menyutradarai film fantasi yang berasal dari sebuah legenda ternyata merupakan hal baru untuk sutradara sekelas Guy Ritchie. Kepada majalah EMPIRE edisi 336, Guy mengaku kalau dia merasa tertantang. “Saya suka melakukan sesuatu di genre yang baru. Rasanya asing”, ujarnya. Di sisi lain, mau tidak mau Guy harus melakukannya karena beberapa alasan. Salah satu cara bagi seorang sutradara untuk semakin berkembang adalah masuk ke dunia ini. Genre fantasi adalah hal yang ditakuti oleh sebagian filmmaker, padahal bermain di sini sangat penting demi meluaskan pengalaman dan kredibilitas mereka. Lagipula, dengan sederet kesuksesan yang ada, bukankah ini saat yang tepat bagi Guy untuk keluar dari zona familiar?

DSC05923 3.dng

Sutradara Guy Ritchie (atas) bersama Charlie Hunnam (Arthur)

Kembali booming-nya kisah-kisah yang berlatar kerajaan (ya, Game of Thrones salah satunya), membuat King Arthur harus berani untuk tampil lebih beda dan tentu dalam skala yang lebih besar. Tantangan semakin bertambah karena legenda Arthurian ini terbilang kompleks dan punya banyak karakter penting. Guy dan seluruh produser pun sadar mereka tidak bisa memuat semuanya hanya dalam dua jam. So, mereka membuat strategi “shared universe”, yang mana diusulkan oleh scriptwriter Joby Harold. Tapi, sebelum melangkah lebih jauh, mari kita bahas dulu film pembukanya yaitu Legend of The Sword.

hunnam

Arthur (Hunnam) aslinya adalah anak dari raja Camelot, Uther Pendragon (Bana). King Uther sendiri adalah seorang pemimpin yang berani, dan disegani berkat pedang saktinya yang bernama Excalibur. Berdasarkan legenda, Excalibur adalah pedang yang khusus diciptakan untuk Uther, dan seluruh keturunan langsungnya, oleh penyihir bernama Merlin. Singkat cerita, terjadi pemberontakan di Camelot yang didalangi oleh saudara Uther, Vortigern (Law). Malang, nyawa istri Uther tak tertolong saat mereka berusaha kabur. Sadar dirinya dalam keadaan terdesak, Uther melawan Vortigern sedangkan Arthur kecil dibiarkan menaiki kapal dan hanyut sampai Londinium. Mulai dari sini cerita akan ditampilkan dari perspektif Arthur.

jude

Sebagai film pertama dari sebuah “shared universe” (kalau memang benar terjadi), King Arthur menciptakan fondasi yang kokoh untuk karakter utamanya. Setelah diambil oleh seorang PSK di Londinium, penonton disuguhkan montage cepat yang berisi rangkaian kehidupan Arthur dari dia kecil sampai dewasa. Eit, ini bukan montage biasa. Di dalamnya terdapat beberapa hal penting yang semakin menjelaskan pembentukan karakter Arthur saat dewasa. Bagaimana dia bisa bertahan hidup, dengan siapa saja dia bergaul, dan lain-lain. Sebuah cara yang cukup ampuh guna menghemat waktu, memberi pemahaman kalau Arthur sudah bisa bekerja dalam tim sejak lama dan memiliki mental seorang pemimpin.

art 1

Selain montage yang oke, Guy juga menghadirkan semacam dialogue-cuts beberapa kali. Di salah satu scene, Arthur bakal diinterogasi karena berurusan dengan Viking. Nah, cara Guy menampilkan cerita dari sisi Arthur sungguh dinamis dan menghibur. Selain diisi oleh candaan, cara Guy meng-edit antara dialog dengan gambar yang sedang terjadi mengingatkan kita pada film Lock, Stock and Two Smoking Barrels (1998). Ini membuktikan bahwa pendekatan modern sesuai dengan berbagai macam latar waktu.

art 4

Hal lain yang berhasil dimanfaatkan oleh Guy Ritchie adalah dia tahu, dan bisa menggunakan kesempatan untuk berkreasi sebebas-bebasnya. Kembali lagi, mengingat ini baru film pertama, Guy bisa menambahkan unsur baru dalam cerita Arthur. Mumpung dia belum jadi raja. Maka, jadilah King Arthur ini sosok yang slengean. Dia adalah anak kampung, dibesarkan di dunia kelas bawah, survivor dengan mulut yang hampir sebelas dua belas dengan Deadpool. Masuknya unsur underground dan rebels membuat Legend of The Sword semakin menarik karena kita bisa melihat bagaimana Arthur akhirnya mau menerima takdir dan melawan Vortigern yang semakin gila kuasa.

art 6

Last but not least, visual yang mengagumkan. Saya belum tahu apakah film ini juga tersedia dalam versi IMAX 3D, karena sepertinya sensasi yang didapat akan lebih mengasyikkan. Ini adalah film ber-budget raksasa dan salah satu cara untuk membuatnya berbeda adalah dengan memanfaatkan visual effect semaksimal mungkin hingga seluruh elemen mistis seperti sihir, dan fantasy creatures-nya terlihat berkualitas. Salah dua yang jadi sorotan utama adalah gajah raksasa yang tingginya 300 kaki, dan sesosok makhluk aneh yang merupakan gabungan dari putri duyung dan gurita. Ditambah dengan soundtrack keren, pakaian Arthur yang skinny dan rambut laid back kelimis, King Arthur: Legend of The Sword betul-betul sebuah perwujudan bagaimana Hollywood mampu meng-upgrade mitologi. Urbanisasi medieval yang frontal!

art 3

Penggunaan teknologi juga merembet ke unsur pertarungan. Ciri khas Arthur yang merupakan petarung jalanan menjadi samar karena dia harus segera menyesuaikan diri dengan Excalibur. Imbasnya, sebagian besar fight scene dari Arthur adalah ketika dia menggunakan senjata, which is, sudah biasa. Satu-satunya unsur petarung jalanan yang ada hanyalah kegigihannya saja. Sudah keseringan berantem dengan pedang, unsur animasinya juga terlalu dominan. Ini membuat banyak manuver Charlie Hunnam jadi kurang dapat dipercaya. Saat-saat di mana Arthur menghabisi seluruh lawannya seorang diri terlihat seperti demo video game, walaupun di sisi lain ini membuat adegan terasa lebih dramatis.

art 2

Oke, dengan info kalau dua film berikutnya adalah tentang Merlin dan Lancelot, King Arthur: Legend of The Sword merupakan pembuka yang pas. Upgrade tidak biasa untuk epic yang terkenal di seluruh dunia. Ah ya, hampir lupa! Kali ini David Beckham punya peran yang lebih besar dibanding sebelumnya! Wajahnya lebih jelas terlihat, begitu juga riasan dan giginya yang tidak rata.

@adam_sarga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s