Tak Berkategori

WHAT WE SAY – FIRE AT SEA

fire at sea

Director: Gianfranco Rosi

Starring: Samuele Pucillo, Samuele Carauna, Giuseppe Fragapane

Score: 8.5/10

Ada dua hal yang membuat film dokumenter ini menarik. Pertama, Fire at Sea termasuk salah satu film unggulan di gelaran Europe on Screen 2017. Disturadarai Gianfranco Rosi, mereka sukses menyabet penghargaan “Golden Bear”, alias film terbaik di Berlinale 2016. Tahun berikutnya, Fire at Sea juga berhasil masuk nominasi “Best Documentary Feature” di Oscar 2017. Alasan kedua, film ini menjadi salah satu karya yang mengangkat tema imigran. Mengutip perkataan Tuan Orlow Seunke selaku festival director, Europe on Screen aslinya tidak pernah memiliki sebuah tema tertentu. Hanya saja, bahasan tentang refugees menjadi salah satu yang menonjol kali ini karena isu tersebut memang sedang hangat di Eropa. Fire at Sea adalah film kaliber Oscar yang sangat penting dan jarang, bahkan sulit sekali disaksikan di bioskop-bioskop Indonesia. Maka dari itu, sangat menyenangkan untuk akhirnya bisa mengetahui bagaimana perspektif para sineas Eropa dalam menanggapi fenomena ini.

lampedusa

Seluruh latar tempat berada di Pulau Lampedusa. Pulau ini terletak di Laut Mediterania, kira-kira 240 kilometer dari Pulau Sisilia. Bisa dibilang, Lampedusa lebih dekat ke Tunisia dibandingkan ke Sisilia. Pengungsi yang berasal dari Afrika dan Timur Tengah banyak yang pergi dan berkumpul di sana. Tapi, lebih banyak lagi yang tidak selamat. Mereka nekat menyebrangi lautan dengan harapan bisa menciptakan kehidupan baru di benua biru.

fas 1

Fire at Sea bukanlah dokumenter tentang imigran yang diisi oleh kekacauan yang berujung tragis. Film ini lebih bagus daripada itu. Mereka mengajak penonton berjalan-jalan melihat kehidupan dan kebudayaan penduduk setempat lewat kacamata seorang anak berusia 12 tahun bernama Samuele. Alih-alih rusuh dan menegangkan, semua berjalan sangat tenang. Inti dari film ini adalah bagaimana caranya mengolah awareness kepada mereka yang menonton. Tidak ada upaya menghakimi. Gianfranco hanya ingin menampilkan realita sebuah dunia yang mengenaskan. Sisanya, biar kita sendiri yang berpikir, apakah manusia zaman sekarang memang benar-benar sudah gila?

fas 2

Berbulan-bulan tinggal di Lampedusa, Gianfranco memfokuskan kameranya pada hidup Samuele. Bocah ini ditampilkan sebagai anak yang aktif, imajinatif, namun juga punya masalah. Pertama, kendala fisik karena matanya terkena penyakit “lazy eye”, dan “anxiety attacks”.  Kedua, berbeda dengan masyarakat Lampedusa pada umumnya, Samuele masih belum terbiasa berlayar. Lampedusa adalah pulau yang sangat strategis, namun Samuele masih merasa mual saat berada di atas kapal. Dia juga tidak jago mendayung

fas 5

Sedikit demi sedikit Samuele menjadi penyambung antara karakter satu dengan yang lain. Pamannya adalah seorang pelaut. Neneknya seorang ibu rumah tangga yang tidak jarang me-request lagu ke radio setempat. Sedangkan dokter yang menangani Samuele adalah dokter yang juga menangani para imigran. Selain itu, Samuele adalah potret harapan untuk para imigran. Walaupun sama-sama hidup sederhana dan bisa dikatakan belum jadi warga Lampedusa sepenuhnya, Samuele memiliki apa yang tidak bisa diraih oleh imigran yaitu rutinitas harian, pendidikan, kebebasan bergerak dan sense of belonging dari tempat yang telah lama ditinggali oleh keluarganya. Yap, makna dari kata “rumah” yang sesungguhnya.

fas 4

Beralih ke para imigran, Tuan Rosi tidak menampilkan betapa tersiksanya mereka secara gamblang. Salah satu scene (which is my favourite) memperlihatkan seorang refugee meceritakan apa yang ia alami bersama teman-temannya sebelum sampai di Lampedusa. Kondisi mereka sangat mengenaskan karena tanah kelahirannya sudah tidak aman, dan tidak ada yang memberi mereka pertolongan. Mereka bertahan hidup sekuat tenaga, walaupun medan yang mereka tempuh sangat berat seperti Gurun Sahara, penjara Libya dan Laut Mediterania. Mereka menumpang kapal yang over capacity. Sebagian dari mereka berada di bagian bawah, di mana sulit untuk bernafas, dan adanya minyak yang bercampur dengan air membasahi sekujur tubuh mereka. Para imigran akan menempuh apa saja agar bisa bertahan. Menariknya, cara orang ini bercerita juga terasa menghibur di saat yang sama karena dicampurkan dengan lagu asal negaranya. Cerita pilu ini menjadi sebuah sajak yang cantik karena dinyanyikan secara bersama-sama.

“It is risky in life not to take a risk, because life itself is a risk”.

fas 6

Satu karakter lagi yang menarik di sini adalah Dokter Bartolo. Dia adalah dokter yang menangani Samuele, warga pulau, dan juga para imigran. Dokter Bartolo adalah hati film ini. Di salah satu scene ia membagi pengalamannya tentang betapa menyedihkan untuk melihat orang-orang ini mati sia-sia. Sang dokter kembali mengingatkan kita kalau sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain. Hidup bukan tentang mendapatkan dan memiliki, tapi tentang menolong dan memberi.

fas 3

Entah sampai kapan kekacauan yang terjadi di seluruh dunia, Fire at Sea memiliki topik yang pas untuk dibagikan kepada mereka yang memimpin negara. Meskipun begitu, caranya menyampaikan pesan sangatlah rendah hati dan tidak terkesan lancang. Sebuah dokumenter yang menyentuh, dan diambil secara menyeluruh.

@adam_sarga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s