Tak Berkategori

WHAT WE SAY – ELLE

elle poster

Director: Paul Verhoeven

Starring: Isabelle Huppert, Laurent Lafitte, Anne Consigny, Charles Berling, Jonas Bloquet, Christian Berkel, Judith Magre, Alice Isaaz, Virginie Efira, Vimala Pons

Score: 8.5/10

Sebuah film bisa dikatakan “sakit” kalau karakter-karakter yang ada di dalamnya memang benar-benar “sakit”. Nah, Elle adalah contoh yang sangat tepat untuk ini. Disutradarai Paul Verhoeven, Elle berhasil melejitkan kembali nama Isabelle Huppert, khususnya pada generasi muda. Setelah membintangi film tersebut, Isabelle meraih banyak prestasi. Salah dua nya adalah memenangi Golden Globes 2017 kategori “Best Performance by An Actress in A Motion Picture, Drama” dan masuk nominasi “Actress in A Leading Role” di Oscar 2017. Ketika film ini diumumkan tampil di fesival Europe on Screen, “Faktor I” tersebut menjadi sangat penting. Banyak yang penasaran, memang kayak gimana sih penampilan Isabelle di sini? Ternyata… fuh! BENERAN GILA!

elle

Elle dibuka dengan scene yang terbukti efektif untuk membawa penonton langsung masuk ke dalam cerita. Michele (Huppert) diserang secara brutal oleh orang yang tidak dikenal. Bekerja sebagai CEO dari sebuah perusahaan video game, Michele yang hidup mapan tinggal sendirian. Jadi, tidak heran kalau dia dengan mudah bisa dijadikan sasaran. Setelah diserang, Michele yang terguncang mencoba untuk tegar. Bukannya melaporkan apa yang telah dialaminya kepada polisi, dia memilih untuk menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri. Tapi, alih-alih memburu pelaku, Michele malah semakin terjerumus ke dalam permainan “cat & mouse” yang mematikan.

isabelle

Isabelle Huppert memainkan perannya dengan sangat baik. Sesuai judulnya, ini adalah film tentang karakternya, dan dia berhasil menampilkan Michele sebagai pusat perhatian dari awal sampai akhir. Di samping efek pemerkosaan yang timbul, Michele juga harus mengerjakan banyak hal. Dia adalah seorang anak, seorang ibu, seorang boss. Banyak tanggung jawab besar yang harus diemban untuk seorang single fighter sepertinya, dan itu terlihat sangat menyiksa. Michele adalah tipe wanita yang penuh percaya diri, sehingga hal ini membuatnya sering berada di situasi sulit. Contoh kecil, karyawan laki-lakinya yang tidak suka diatur oleh seorang wanita. Ini menjadi subplot yang menarik di samping ancaman yang sesungguhnya.

elle 1

Anyway, Michele juga bukan tanpa celah. Di sisi lain dia memiliki isu mengenai hasrat seksual yang, well, sulit untuk dibilang normal. Mengingat Elle adalah sebuah karya yang dibidani oleh dua orang pria (Verhoeven sebagai sutradara, Philippe Djian sebagai penulis novel aslinya), standing point tokoh Michele jadi tidak jelas. Apakah dia menjadi objek dari eksploitasi wanita yang berlebihan, atau simbol dari seorang modern heroine? Ini ditambah sama hubungan dengan teman-temannya, yang mana penuh dengan berbagai macam permainan. Dualisme ini jelas bisa menimbulkan perdebatan. Namun yang pasti, tidak akan ada yang berani meragukan Isabelle dari segi penampilan.

elle 2

Kecemerlangan Isabelle turut didukung oleh para pemeran pembantu. Mereka juga sangat kuat karena ditampilkan bukan hanya sebagai teman biasa. Ada cerita yang bisa kita telusuri di sana. Patrick (Lafitte) dan Rebecca (Efira) adalah tetangga depan rumah Michele. Mereka sangat ramah dan tidak segan memberi pertolongan. Robert (Berkel) dan Anna (Consigny) adalah pasangan yang juga merupakan sahabat dan rekan kerja. Sedangkan Richard (Berling) adalah mantan suaminya, yang kini sedang dekat dengan Helene (Pons), seorang instruktur yoga. Interaksi yang terjadi di antara seluruh karakter dengan Michele sukses menambah pekat misteri. Masalah ini jadi kian sulit dihadapi. Bagaikan sebuah maze yang ada dalam novel-novel pembunuhan.

elle 4

Elle adalah film yang super intens! Apa yang Kamu saksikan di awal hanyalah trigger dari serangkaian kejadian yang menegangkan. Mungkin membuat penonton merasa tidak nyaman adalah salah satu tujuan. Setiap saat Michele berada di rumah pada malam hari, di situlah Kamu mulai harap-harap cemas. Perasaan semakin tidak enak dengan tone yang gelap, dan musik yang bikin susah nafas. Tapi tenang, Kamu tidak akan selalu dibawa tegang. Layaknya roller coaster, Elle juga menyediakan  waktu istirahat. Bahkan beberapa di antaranya memiliki dialog yang sangat menghibur.

elle 3

Elle bukan kasus pemerkosaan, atau aksi balas dendam biasa. Paul Verhoeven jelas tidak menjadikan ini sebuah klise dengan menggunakan metode “Scooby Doo”. Dunia yang dihidupi Michele sangat aneh dan kejam. Maka dari itu, Paul harus membuat cerita menjadi semakin rumit, tapi terlihat menarik. Penonton akan terheran-heran karena apa yang diprediksi justru hanya menjadi pintu menuju babak berikutnya. Jadi, bagaimana Michele akan mengakhiri semuanya?

@adam_sarga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s