Tak Berkategori

WHAT WE SAY – A MAN CALLED OVE

Director: Hannes Holm

Starring: Rolf Lassgard, Bahar Pars, Filip Berg, Ida Engvoll

Score: 8.5/10

Walaupun aslinya film ini rilis tahun 2015, tidak ada salahnya untuk menonton A Man Called Ove di pegelaran Europe on Screen tahun ini. Well… bahkan harus! Bagaimana tidak, kalau dilihat dari segi prestasi, Ove juaranya. Mewakili Swedia di The 89th Academy Awards, film ini menjadi nominee pada dua kategori sekaligus: “Best Foreign Language”, dan “Make Up and Hairstyling”. Dengan catatan tersebut, tentu sangat menarik bagi kita untuk sama-sama melihat keajaiban apa yang dimiliki oleh film ini sehingga bisa menghasilkan sepasang nominasi. Apalagi Ove merupakan hasil adaptasi dari novel laris berjudul sama karya Fredrick Backman.

Ove (Lassgard) adalah seorang pria pensiunan berusia 59 tahun. Dia sangat tempramental dan menjalani hidup dengan prinsip yang kaku. Setelah diberhentikan dari tempatnya bekerja selama 40 tahun ke belakang, Ove sehari-hari mengawasi peraturan dan tata tertib lingkungan RT-nya walaupun tidak ada warga setempat yang peduli. Ove semakin putus asa karena selain merasa terasing, ia juga hidup seorang diri. Baginya yang sudah berusia renta, sepertinya tidak ada lagi yang ingin dicapai selain menyusul istri tercinta. Lucunya, usaha tersebut selalu kandas berkat “gangguan” dari tetangga barunya. Ove yang jengkel, berusaha untuk sabar dan mingle. Ternyata, persahabatan tak terduga malah berkembang di antara Ove dengan tetangganya ini.

Sebagai sebuah film yang fokus pada perkembangan karakter utama, A Man Called Ove sejatinya punya pesan penting, namun dibingkai dengan manis dalam sebuah potret yang sederhana. Jika dilihat dari lingkup terkecil, yaitu “Ove as a person”, penonton akan memahami apa itu arti bahagia dan duka manusia. Secara halus, sutradara Hannes Holm membawa kita menelusuri kehidupan Ove sejak dia masih kecil. Berbagai persitiwa penting ditampilkan dengan rapih dalam alur maju-mundur cantik. Tingkah laku Ove yang tidak biasa pasti menimbulkan tanda tanya, apa yang sebenarnya terjadi kepada dia? Untuk itu, dibutuhkan beberapa flashback agar pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa terjawab satu demi satu. Tentu bukan hal mudah untuk menempatkan unsur tersebut, apalagi sesuai dengan urutannya sehingga keseluruhan cerita dapat dinikmati secara saksama. A superb, well-crafted storytelling.

Beranjak ke ide besar, Ove bisa dibilang adalah representasi dari Eropa dengan sikapnya yang emosional dan keras kepala. Seperti yang kita tahu saat ini, Eropa sedang dilanda kekacauan. Benua biru sedang marah karena berbagai macam masalah. Salah satunya adalah isu imigran, yang kemudian merembet ke banyak hal seperti politik dan pertahanan-keamanan. Kebetulan, Swedia adalah salah satu negara yang juga memiliki banyak imigran, dan film ini punya karakter pendukung yang merupakan seorang imigran yaitu Parvaneh (Pars). Parvaneh adalah ibu muda beranak dua yang kini sedang hamil anak ketiga. Perkenalannya dengan Ove tidak berlangsung baik. Mobilnya menabrak kotak surat rumah Ove dan jelas-jelas peraturannya adalah tidak boleh bermobil di area itu. Efeknya, Ove tidak menerima Parvaneh yang dianggap mengganggu. Meskipun begitu, Parvaneh menerima kesalahannya, bahkan berusaha untuk kembali menjalin hubungan yang lebih baik dengan Ove.

Di sini kita dapat melihat betapa kontrasnya Ove dan Parvaneh. Tidak hanya soal umur, mereka berdua adalah cerminan dari perilaku eksklusif dan inklusif. Bagaimana caranya dua orang tersebut bisa menjalin persahabatan dan saling menerima menjadi salah satu kunci kehebatan film dalam mentransfer gagasan utamanya. Cara-cara bersosialisasi yang ditampilkan sepertinya sudah langka, padahal ini sangat mudah dilakukan. Hanya saja, kita seakan-akan lupa. Beberapa di antaranya adalah memberi hidangan pada tetangga, atau tidak segan membantu ketika melihat ada sesuatu yang tidak beres. Relasi mereka berdua juga didukung oleh berkembangnya interaksi antara Ove dengan warga lokal lainnya. Kegagalan Ove untuk mengakhiri hidupnya secara terus menerus sukses dikaitkan dengan maksud yang lebih besar. Benar saja, A Man Called Ove mengingatkan kita kalau cara terbaik untuk menjaga keberlangsungan suatu budaya adalah melalui keterbukaan dalam komunitas. Ingat, kesan pertama bisa mengecoh, dan hidup itu akan lebih manis kalau dijalankan bersama-sama.

A sweet, funny movie with a very big heart. Go see it!

@adam_sarga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s