Tak Berkategori

WHAT WE SAY – THE CIRCLE

circle poster

Director: James Ponsoldt

Starring: Emma Watson, Tom Hanks, John Boyega, Karen Gilllan, Patton Oswalt, Bill Paxton, Glenne Headly, Ellar Coltrane

Score: 7.5/10

Awal periode summer movies tahun ini dibuka dengan film yang menampilkan tiga bintang ternama sekaligus. Tidak tanggung-tanggung, di sana ada Emma Watson yang baru saja memerankan Belle di Beauty and The Beast, Tom Hanks (pasti Kamu tahu siapa dia, filmnya ada apa saja) dan John Boyega, si stormtroopers buangan. Namun ternyata, hal yang justru lebih menarik adalah ceritanya yang menyangkut tentang privacy issue. Memang ini bukan hal baru, tapi The Circle meramunya dengan memasukkan beberapa unsur berupa tren sosial kekinian. Hasilnya, di satu sisi film ini menjadi tamparan untuk generasi milenial.

circle 3

Walaupun harus berbagi dengan Tom Hanks di poster, sesungguhnya Emma Watson adalah karakter utama film ini. Dia berperan sebagai Mae Holland, cewek yang sedang memasuki entry level dalam karir. Bekerja sebagai costumer service di sebuah kantor biasa, Mae senang bukan main ketika tahu dirinya diterima bekerja di sebuah perusahaan besar bernama The Circle. Perushaan ini bisa dibilang merupakan tempat kerja impian generasi milenial. The Circle nampak seperti gabungan dari Google dan Facebook. Mereka mengumpulkan informasi dari setiap penggunanya dan mengolah data tersebut secara analitis. Bisa ditebak, tidak butuh waktu lama bagi Mae untuk menjadi pusat perhatian dan menyadari kalau ada yang tidak beres di balik “lingkaran” ini.

circle 5

Generasi Milenial jelas diwakili oleh karakter Mae, dan seluruh karyawan The Circle. Mereka digambarkan sebagai angkatan kerja yang tech savvy dan terkesan luwes. Selain itu, walaupun terlihat sangat sibuk, mereka ternyata juga menghargai waktu senggang yang digunakan untuk bersenang-senang atau nongkrong bersama teman-teman komunitas. Keterbukaan menjadi kata kunci di sini, di mana seluruh karyawan The Circle mempunyai profil masing-masing yang berguna untuk mengetahui seperti apa kepribadian dan kesukaan tiap individu. Namun, alih-alih menggunakan hal klise ke dalam rangkaian cerita, data yang diperoleh dari sini dimanfaatkan dengan baik dari sisi yang cukup tidak terduga sebelumnya sehingga tercipta sebuah relasi yang kuat, yang menimbulkan sikap poisitif dan saling percaya antara karakter Mae dan pihak perushaan. Bagusnya, ini membuat film dapat memasuki babak berikutnya secara rapih.

circle 4

Masalah generasi milenial menjadi salah satu yang wajib diresapi, apalagi dengan semakin berkembangnya teknologi dan semakin cepatnya akses informasi saat ini. Keterbukaan dan transparansi yang ditawarkan The Circle membuat generasi muda terlihat seperti kumpulan orang-orang bodoh. Mereka bergantung pada teknologi internet untuk melakukan segala hal, dan ini mengenaskan karena orang-orang ini terlihat layaknya budak kekinian dan tidak menghargai ruang pribadi. Di salah satu scene, Mae kedatangan tamu yaitu teman masa kecilnya, Macer (Coltrane). Karena satu dan lain hal, Macer dituduh yang tidak-tidak oleh netizen. Puncaknya, sebuah ancaman pembunuhan datang ke e-mail Macer dan dia melaporkan hal tersebut kepada Mae. Naas, kejadian ini justru direkam oleh para pegawai yang sedang berada di daerah tersebut menggunakan gadget mereka masing-masing. Tidak sedikit pula dari mereka yang mem-bully Macer. Sebuah tindakan yang sungguh tidak sopan karena pada dasarnya, itu merupakan ruang privasi antara Mae dan Macer. Namun apa mau dikata, gak bisa disangkal kalau ini adalah cerminan buruk anak-anak zaman sekarang. Mengaku saja, banyak di antara kita yang perilakunya seperti itu juga. Tidak ada ke-lebay-an dalam menampilkan perilaku remaja dan dewasa muda di sini. Karena kita sudah terbiasa melihatnya di YouTube dan kehidupan sehari-hari.

THE CIRCLE, TOM HANKS, 2017. PH: FRANK MASI/© EUROPACORP USA

Selain mengancam privasi, keterbukaan ini juga bisa menjadi teror yang menakutkan, dan bahkan mematikan. Hal tersebut dialami oleh Mae, dan para karakter pendukung yaitu ayah-ibu Mae dan sahabatnya sendiri, Annie (Gillan). Ayah dan ibu Mae yang awalnya mendukung putrinya bekerja di perusahaan terbaik dunia, berbalik cemas karena apa yang diperbuat The Circle malah membahayakan hidup keluarga mereka. Sedangkan Annie, yang sejatinya senior Mae, kapok dan ngeri dengan apa yang perusahaan ini perbuat kepadanya. Mae? Dia menjadi tumbal dari keterbukaannya sendiri. Ia melakukan sebuah kesalahan fatal. Anyway, di balik kenyinyirannya, di sini mereka kembali menemukan momen yang tepat sebagai pintu menuju babak akhir.

circle 1

Sayang, akhir film justru berakhir begitu saja. Zonk besar! Penonton bakal bingung, apa maksud yang ingin dikemukakan sebenarnya, karena semuanya menjadi tidak jelas, bahkan menimbulkan pertanyaan besar yang tidak perlu. Akhir dari film sesungguhnya sudah menggunakan cara yang tepat, yaitu dengan serangan balik cepat dan tak terduga. Namun, serangan balik ini justru berakhir antiklimaks. Efeknya, karakter antagonis yang dari awal terlihat sangat kuat, luntur begitu saja. Lebih dari itu, konsep dan isu-isu yang dibawa juga lumpuh karena filmnya sendiri tidak memberi solusi atau kesimpulan yang berarti. Kayak ditampar saja, sekencang-kencangnya tamparan juga nanti rasa sakitnya bakal hilang sendiri.

@adam_sarga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s