Tak Berkategori

HYPE – Ambisi “Chollywood” Saingi Hollywood

time

When China wasn’t the market, you just followed the American way. But these days, they ask me, ‘do you think the China audience will like it?’ All the writers, producers – they think about China” – Jackie Chan

Dengan kekuatan ekonominya, banyak terobosan baru yang dilakukan oleh Cina guna meningkatkan industri perfilmannya. Tahun 2015, rata-rata ada 22 layar bioskop baru yang diluncurkan setiap harinya. Pendapatan Box Office mereka juga naik lebih dari 50% dibanding 2014. Hollywood melihat ini sebagai sebuah kesempatan. Mereka menganggap Cina sebagai pasar (pasar ya, bukan partner) yang besar dan bisa menyelamatkan film-film mereka. Let’s say, kalau ada satu film blockbuster yang gagal di Amerika, film tersebut bisa terselamatkan akibat chinese interest.

warcraft 1

Warcraft salah satu contohnya. Ber-budget sampai 160 juta USD, dalam seminggu pertama film ini pendapatannya tidak sampai 25 juta USD di Box Office. Banyak faktor yang mempengaruhi angka ini, mulai dari review situs-situs macam Rotten Tomatoes dan IMDb, sampai performa film-film lainnya (Warcraft rilis di musim panas, which is saingannya adalah film-film blockbuster dari studio pesaing). Tapi, setelah film ini rilis di Cina, Warcraft langsung balik modal! Baru 5 hari rilis, Warcraft sudah meraup 156 juta USD. Salah satu faktor penentu kesuksesan ini adalah kuatnya gaming interest di Cina. Tidak peduli gimana review filmnya, yang penting mereka nonton.

cina-4

Wang Jianlin, ketua Dalian Wanda Group (sumber: New York Times)

Situasi ini tentu menguntungkan Cina. Imbas dari munculnya ketergantungan Hollywood adalah semakin banyaknya invasi mereka. Mulai dari investasi gila-gilaan Wanda Group ke Legendary Entertainment, sampai aktor-aktor Cina yang makin sering terlihat di sebuah film Hollywood. Nah kalau diperhatikan, kerja sama film akhir-akhir ini kebanyakan berada di area yang “basah duit” alias film-film blockbuster. Wajar dong kalau mereka mengejar keuntungan komersil. Tapi akibatnya, pemerintah membuat regulasi baru untuk mencegah pengaruh asing yang masuk lewat film. Sebuah sistem kuota yang membatasi jumlah film impor ber-budget raksasa menjadi 34 film per tahunnya.

flowers

Untuk mengakali peraturan ini, Hollywood dan Cina bekerja sama. This co-production type of movies are not subject to quota. Co-production selain memerlukan banyak dana dari kedua belah pihak,, syuting juga dilakukan di Cina dan memanfaatkan talent dan kru lokal juga. Sebuah jalan pintas yang sangat diplomatis.

Hasilnya? Belum signifikan. Film hasil co-production yang sukses di Cina belum tentu sukses di Amerika karena perbedaan rasa. The Flowers of War (2012) contohnya. Dibintangi aktor sekelas Christian Bale, filmnya flop di Hollywood dengan pendapatan hanya 311 ribu USD. Sejauh ini kolaborasi yang berhasil adalah film animasi Kung Fu Panda 3 yang mendapatkan 519 juta USD di Box Office seluruh dunia. Film tersebut memadukan unsur Cina (karena Panda adalah hewan nasional mereka) dengan aktor-aktor Hollywood dan western script. Why should “western”? Because you can’t tailor to both sides.

cina-5

Risiko dari kolaborasi ini adalah anggapan terjadinya penyimpangan sejarah atau budaya dari insan perfilman lokal. Di film The Great Wall misalnya, masih saja ada yang protes gara-gara isu whitewashing dan storyline yang terlalu Amerika. Mungkin mereka lupa kalau ini adalah proyek film besar yang goal-nya internasional. Tidak hanya sukses di Cina tapi juga Amerika dan seluruh dunia. Bayangkan, siapa aktor Cina daratan atau Hongkong dan Taiwan yang sanggup dan punya “global star power” sebesar Matt Damon? Biaya film ini mencapai 150 juta USD lho! Mau rugi bandar lagi?

Anyway, so far “The Great Wall” did very well in China with $65 on its opening weekend. Tapi, ujian sebenarnya adalah saat film ini rilis di Amerika pada tanggal 17 Februari.

cina-2

Kolaborasi “East Meets West” kembali menemui tantangan karena pemerintah Cina memunculkan peraturan baru. Peraturan ini melarang perusahaan film lokal bermitra dengan filmmaker asing yang bermaksud “merusak martabat nasional, kehormatan dan kepentingan Cina, atau merugikan stabilitas sosial dan menyakiti perasaan nasional”.

Presiden Xi Jinping mendesak Cina untuk mengekspor nilai-nilai mereka dan mempromosikannya di pentas dunia layaknya “K-pop” Korea, atau “Bollywood” India. Kepada TIME, aktris Fan Bingbing bilang kalau film yang bisa dirilis di Cina harus mendemonstrasikan “socialist value” dan ini menguras semangat dan kreatifitas dari sineas lokal untuk berkarya. Masyarakat Cina sendiri aslinya juga sudah capek dengan patriotisme ekstrim macam ini, apalagi orang luar. Worldwide audiences are not going to see communist propaganda or overly sanitized Chinese rom-coms.

cina

Well, Cina memang punya banyak uang, tapi itu tidak bisa membeli pikiran, mimpi dan kreatifitas seseorang. Tentang tiga hal ini, Cina masih kalah dibanding Hollywood karena:

  1. Berbeda dengan Cina yang kemajuan industri filmnya didorong oleh perkembangan kelas menengah atas yang mau cari hiburan, orang-orang Amerika sudah menjadikan “nonton film” sebagai budaya mereka. They watch movies, or talk about it as a passion.
  1. Hollywood punya talenta terbaik di setiap bidang perfilman yang berasal dari berbagai kalangan, ras dan suku bangsa. Ini bikin penonton merasa terlibat dalam film karena mereka seperti direpresentasikan.
  1. Hollywood juga punya sistem yang menjadi standar dunia untuk melihat baik buruknya kualitas film. Mulai dari Oscar, Golden Globe, sampai Razzie Awards. Pernah dong Kamu lihat di sebuah trailer ada yang suka cantumin embel-embel “from The Academy Awards winning director” atau “The Academy Awards winner” dan semacamnya. Nah, itu salah satu cara untuk menarik perhatian penonton secara global.

Hengdian, China

Memang betul Box Office Cina aslinya tidak membutuhkan Hollywood untuk sukses dan meraup untung. Tapi itu hanya berlaku di negeri mereka saja. Mau itu mecahin rekor Box Office dunia atau apa, itu adalah rekor yang normal karena penduduk Cina memang banyak. Pertanyaannya, apakah film-film yang 100% persen Cina itu bisa berjuang di luar Cina, apalagi kalau tujuannya adalah komersil? Mereka harus melawan film-film Hollywood dan film-film lokal negara yang bersangkutan. Tidak ada yang bisa menolong kecuali penonton yang segmented atau yang benar-benar movie geeks. Sulit bagi Cina untuk menyaingi Hollywood kalau mereka hanya berjalan sendiri.

Sumber:

  • Beech, Hannah. (2017, February 6). Hollywood east: A movie-crazy China is remaking the global film industry in its image. TIME, p. 30-36.

@adam_sarga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s