Tak Berkategori

WHAT WE SAY – THE LAST BARONGSAI

lb-poster

Director: Ario Rubbik

Starring: Tio Pakusadewo, Dion Wiyoko, Rano Karno, Hengky Solaiman, Azis Gagap, Furry Citra, Vinessa Inez, Suti Karno

Score:  7,5/10

“Sejak kapan menjaga tradisi itu menjadi pilihan kedua?”

Aguan (Dion Wiyoko) merasa gundah. Di satu sisi ia merasa gembira karena permohonan beasiswanya di Singapura disetujui. Di sisi lain ia tergoda untuk mengikuti kejuaraan barongsai tingkat nasional. Ia ingin menghidupkan kembali Sanggar Hong Shi yang ditutup ayahnya, Kho Huan (Tio Pakusadewo) sejak ibunya meninggal.

Sementara itu Kho Huan resah mencari cara untuk mengumpulkan uang sebagai biaya perjalanan dan biaya hidup putranya menuntut ilmu. Ia pun bekerja keras menyelesaikan mebel dan marah ketika mendapati putranya tidak membantunya mencarikan pesanan,melainkan asyik berlatih barongsai bersama Azis dan kawan-kawan lainnya. Kho Huan menyurutkan niat putranya untuk mengikuti kejuaraan sehingga hubungan ayah-anak ini menjadi retak.

lb-2

Film The Last Barongsai rilis di momen yang tepat, yaitu beberapa hari menjelang Imlek. Saat Imlek ada banyak pertunjukan barongsai yang dihelat. Namun, cerita di baliknya, bagaimana mereka berlatih dan bagaimana kehidupan para anggota sanggar barongsai tersebut belum pernah dibidik dalam sebuah film.

Ada banyak pernak-pernik khas Tionghoa yang diusung dalam film ini, seperti adik Aguan, Ai (Vinessa Inez), yang aktif berlatih wushu, Tung Liem (Hengky Solaiman) yang menekuni alat musik gesek khas Tionghoa dan sering menjadi tempat Aguan meminta nasihat, juga keberadaan klenteng. Unsur toleransi juga diangkat dalam seperti yang nampak pada persahabatan Aguan dan Azis (Aziz Gagap) juga antara Kho Huan dan Udin (Rano Karno) yang berbeda agama.

Sungai Cisadane yang melintasi Tangerang juga banyak disorot dalam film ini. Setting film memang berpusat di sekitar sungai tersebut dimana cukup banyak etnis Tionghoa bermukim, atau yang lazim disebut “Cina Benteng”. Di tempat ini juga Azis dikisahkan bekerja sebagai operator penyedia jasa penyeberangan sehari-harinya.

dionn

Dalam film yang naskahnya ditulis Rano Karno dan Titien Wattinema serta dibuat oleh rumah produksi Karnos Film ini sinematografinya cukup memanjakan mata. Musik scoring dari Purwacaraka juga menambah keindahan film.

Akting pemain yang pantas dipuji dalam film ini adalah Tio Pakusadewo dan Rano Karno. Kedua aktor senior ini bermain natural. Sedangkan untuk Dion Wiyoko, penampilannya di Cek Toko Sebelah masih lebih baik dibandingkan di film ini, namun bukan berarti ia bermain buruk.

lb-1

Seandainya porsi tentang barongsai-nya lebih banyak, maka film ini bakal epik. Sejarah dari barongsai tidak banyak dibahas. Mengapa barongsai sering hadir dalam acara perayaan penting khas Tionghoa dan apa saja unsur-unsur yang wajib dalam barongsai tidak tergali. Apa yang dinilai dari kejuaraan barongsai juga tidak diceritakan, padahal sosok utama dalam film ini adalah barongsai.

Sangat disayangkan porsi drama dalam film terlalu besar dan terkesan dibuat berlarut-larut. Alhasil di pertengahan cerita saya mulai merasa agak bosan. Karakter si adik juga tidak simpatik dan sebenarnya tidak penting. Hanya seakan hadir sebagai pelengkap agar konflik dalam film semakin kompleks.

@dewi_puspa00

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s