Tak Berkategori

WHAT WE SAY – THE GREAT WALL

 

gwww

Director: Zhang Yimou

Starring: Matt Damon, Andy Lau, Jing Tian, Pedro Pascal, Willem Dafoe, Lu Han, Zhang Hanyu

Score: 7/10

Tak bisa disangkal, Cina sudah menjadi negara yang penting bagi Hollywood. Negeri Tirai Bambu kini tercatat sebagai salah satu negara dengan jumlah penonton film terbanyak di dunia. Box office Cina sedang mengalami kemajuan pesat. Jumlah audiens meningkat sampai 60 kali lipat, dan penambahan bioskop pun melesat dengan dibangunnya 27 layar baru di setiap harinya. Walaupun mengalami sedikit penurunan akhir-akhir ini, Cina masih kokoh sebagai pasar film yang besar hingga tahun 2019. Kolaborasi internasional kemudian dilakukan untuk menjembatani kepentingan Hollywood dan Cina. Nah, kerjasama yang paling baru adalah film The Great Wall ini. Mereka mengangkat mitos yang menyelimuti Tembok Cina kemudian menggabungkan seluruh talenta dari kedua negara. Dengan konsep yang masif seperti ini, tidak heran kalau The Great Wall dilabeli “The Most Expensive Film Has Ever Made in China”.

gw-4

Film ini mengikuti petualangan William Garin (Damon), yang sedang mencari “bubuk hitam” di Cina bersama rekannya, Pero Tovar (Pascal). Saat mereka sedang berusaha kabur dari kejaran orang-orang suku, William dan Pero malah tertangkap pasukan Tembok Cina. Sialnya, mereka tidak pandai berbohong. Dengan kecerdasannya, Komandan Lin (Jing Tian) mengetahui kalau William dan Pero adalah tentara. Alih-alih dihukum mati, William dan Pero malah ditahan lebih dulu karena sebelum mereka tertangkap pasukan tembok, William menghabisi seekor Tao Tie – makhluk buas yang bersiap untuk menyerang Tembok Besar dan memasuki ibukota.

gw-5

Tidak salah kalau film kolosal ini dinobatkan sebagai “Yang Termahal”. The Great Wall memang benar-benar terasa megah dan telihat indah. Bagaimana sutradara Zhang Yimou menggambarkan Tembok Cina beserta kekuatan dan kemegahannya patut diacungi jempol. Saya tidak tahu berapa banyak stuntman dan stuntwoman yang dipekerjakan di sini, namun semua pasukan terlihat sangat keren dengan armor-nya masing-masing. Berbeda dengan film sejenis yang terkesan pucat pasi, baju perang yang berwaran-warni dari pasukan tembok bikin The Great Wall lebih sedap dipandang mata. Anyway, setiap baju zirah punya karakteristiknya masing-masing lho! Contohnya hitam untuk pasukan infanteri, merah untuk pemanah, dan biru untuk prajurit wanita.

gw-6

Keindahan film tidak berhenti sampai di situ saja. Jika di siang hari kita dimanjakan dengan warna-warni baju zirah, maka malam harinya kita bisa melihat keanggunan Tembok Besar. Tontonan visual yang cantik beberapa kali disuguhkan. Kerennya, Zhang Yimou memanfaatkan elemen-elemen tradisional dengan sempurna sebagai objeknya. Contoh yang paling “berasa” adalah saat film ini menampilkan tradisi lokal yang menerbangkan banyak lampion ke udara, dan saat karakter William dan Komandan Lin berada di salah satu menara pengawas untuk membunuh ratu Tao Tie. Man, those scenes are beautiful. Trust me!

Sayangnya, keindahan ini tidak didukung oleh ceritanya, Tembok Besar yang sudah dibangun megah-megah seakan hancur gara-gara kisahnya yang setenang Sungai Yang Tze! Straightforward dan tidak memiliki efek kejutan sama sekali. Bukan tidak mungkin penonton bisa menebak apa yang akan dialami oleh William dan Pero setelah tertangkap. Pengkhianatan yang dilakukan oleh salah satu karakter tidak banyak membantu dan sulit rasanya untuk melihat Andy Lau tidak bertarung sama sekali di sini. Tembok Besar sukses membuatnya terlihat sia-sia.

gw-7

Untuk peperangannya, kalau ngomongin soal jumlah, The Great Wall tidak tanggung-tanggung. Di pertengahan film kita bakal terpuaskan dengan betapa besar dan kacaunya skala pertempuran antara pasukan tembok melawan pasukan Tao Tie. Sayangnya, banyak kesempatan yang dilewatkan sehingga mengurangi unsur ketegangan film ini. Sejatinya, Tao Tie adalah seekor flesh-eater sadis. Tapi di sini sadsinya malah terlihat tanggung. Sepertinya akan lebih seru dan nyata kalau pertempuran diisi dengan lebih banyak darah dan mayat.

matt

Matt Damon jadi orang yang paling disorot karena isu whitewashing dan propaganda dari karakter William Garin. Well, ternyata itu salah. Matt bisa membawakan sosok orang-orang kulit putih yang tidak sempurna. Mereka barbar, kuno dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang mereka mau. Walaupun sangat handal dalam bertarung, William bukan seorang pahlawan. Dia tidak mempercayai siapapun. William bekerja bukan untuk mengabdi seperti yang dilakukan para prajurit tembok. Dia bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Sebuah langkah yang cerdas untuk menarik simpati.

lin

Bagaimana dengan pemeran lainnya? Pedro Pascal sebagai Pero Tovar jadi scene stealer! Lawakan dan sikapnya yang asal-asalan bisa mencairkan suasana. Sifatnya yang bodoh semakin membuat karakter ini ditunggu-tunggu kehadirannya di setiap scene. Chemistry-nya dengan Matt juga sangat baik. William dan Pero lebih terasa sebagai saudara daripada rekan biasa. Sayangnya, penampilan Jing Tian kelewat kaku sebagai seorang komandan. Mungkin karena semua dialognya berbahasa Inggris, jadi dia lebih fokus untuk memastikan setiap kata yang diucapkan sesuai dengan Google Translate. Untungnya komandan yang satu ini sangat manis, jadi Saya tidak bosan memandangnya. 🙂

Just another popcorn movie with a bit sense of diplomacy. The wall is great, but the movie isn’t.

@adam_sarga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s