Tak Berkategori

WHAT WE SAY – A MONSTER CALLS

 

 

amc-2

Director: J.A. Bayona.

Starring: Lewis MacDougall, Sigourney Weaver, Felicity Jones, Toby Kebbell, Liam Neeson.

Score: 7.5 / 10

Disutradarai oleh J.A Bayona (yang setelah ini akan menyutradarai sekuel Jurassic World), Lionsgate mengangkat kisah film adaptasi dari novel karya Patrick Ness. Sedangkan ide cerita dari buku yang ia tulis pun berasal dari Siobhan Dowd. Meskipun promosinya tidak terlalu besar, namun nama-nama aktor dalam film ini patut diperhitungkan. Sebut saja Felicity Jones yang akhir tahun ini akan kembali tampil dalam Star Wars, begitu pula dengan Liam Neeson yang terkenal lewat perannya dalam Taken.

conor

Conor (MacDougall) harus berkelut dengan imajinasinya di kala keadaan sang Ibu (Jones) sakit kritis. Pohon yang sudah ada selama ratusan tahun di pemakaman seberang rumahnya pun bangun dari tidurnya. Menyerupai monster-monster seperti yang ia gambar, pohon tersebut (Neeson) akan memberikan Connor 3 cerita setiap jam kemunculannya, yakni 12.07. Sebagai timbal baliknya, Conor harus menceritakan kisah ke 4, yakni kebenaran tentang mimpi buruknya. Anak yang sering di-bully disekolahnya tersebut memiliki hubungan yang kurang baik dengan Neneknya (Weaver), sedangkan sang ayah (Kebbel) yang telah bercerai tidak bisa terlalu lama berada disisi Conor. Selama Conor bergaul dengan monster tersebut, ia pun berusaha untuk memahami setiap cerita yang monster itu katakan.

tree

Kisah yang cukup inspiratif. Lebih ke pergulatan batin seorang anak yang ibunya sedang sekarat. Bagaikan hidup dalam kenyataan, sang monster rupanya berusaha untuk membuat sang anak beranjak dewasa. Setiap kisah yang monster itu ceritakan akan membuat Conor berpikir lebih dewasa. Mimpi buruk, jam kemunculan monster, realita setelah anak itu tak sadarkan diri, semuanya dikemas dalam alur yang matang dan selalu saling berhubungan hingga twist-nya menyatu dengan baik di akhir film.

amc-3

Animasi, serta gaya gambar yang dituturkan saat monster itu bercerita sungguhlah apik. Paduan warna cat yang sempurna membuat dunia imajinasi tersebut patut diapresiasi. Begitupula dengan sentuhan CGI-nya. Karakter monster, dan beberapa kehancuran di sekitar gereja dibangun dengan penyatuan motion graphic yang rapih. Sebaliknya, sudut pengambilan gambar dari dunia realita malah kurang memuaskan. Ada beberapa framing dan big close up yang sepertinya ditujukan untuk memberikan feel yang ada dalam cerita ke penonton, namun malah terkesan agak mengganggu.

felicity

Berkali-kali suara hilang (dikosongkan), yakni saat awal film dan puncak kemarahan sang anak. Untuk menggambarkan rasa tersebut memang dibutuhkan nuansa berbeda dalam perubahan situasi, dan hal ini adalah salah satu hal yang baik di dalam film. Overall, film ini masih recommended untuk suguhan hiburan, juga kesadaran diri akan pentingnya sebuah keyakinan, keikhlasan, dan bahkan sudut pandang kita terhadap sesama manusia yang selalu berubah-ubah.

@arifrubbiyanto

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s