Tak Berkategori

WHAT WE SAY – INI KISAH TIGA DARA

3-dara-1

Director: Nia Dinata

Starring: Titiek Puspa, Tara basro, Shanty Paredes, Tatyana Akman, Rio Dewanto, Reuben Elishama, Ray Sahetapy, Joko Anwar

Score: 5/10

Cukup excited ketika ada film layar lebar berjudul Ini Kisah Tiga Dara. Mengapa? Mengusung genre drama musikal yang sangat jarang diangkat oleh sineas tanah air menjadi salah satu ketertarikan saya untuk nonton film ini sampai-sampai episode pencarian “Bebe”, salah satu Dara dalam film tersebut, saya lahap habis di Youtube channel-nya.

Ini Kisah Tiga Dara karya sutradara Nia Dinata ini terinspirasi dari film klasik berjudul Tiga Dara. Sayangnya, saya belum sempat nonton meski di waktu yang hampir bersamaan film klasik tersebut direstorasi dan ditayangkan secara reguler di bioskop-bioskop dengan layar terbatas. Ya sudah toh, jadinya saya tak akan bandingkan antara kedua film tersebut.

3-dara-asli

Film dibuka dengan cukup menjengkelkan bagi saya. Tiga Dara, Gendhis (Shanty Paredes), Ella (Tara Basro) dan Bebe (Tatyana Akman) naik taksi yang dikemudikan oleh sutradara Internasional (katanya) di tengah kemacetan Jakarta. Lalu seketika mereka bernyanyi dan menari. OMG! Bayangan saya mereka akan nyanyi live gitu, eh ternyata dubbing ya, feel-nya jadi kurang kerasa. Namun begitu, perlahan tapi pasti Ini Kisah Tiga Dara membawa saya pada segudang kenikmatan menonton setidaknya pada separuh pertama.

gendhis

Pada prinsipnya film ini bercerita tentang keinginan seorang Oma (Titiek Puspa) yang menginginkan cucu tiga daranya menikah hingga Ia bisa menimang cicit. Namun Gendhis, dara tertua tetap saja belum mau menikah padahal usianya sudah kepala tiga. Ia menjelma menjadi wanita mandiri dan mencurahkan segala hidupnya untuk dunia masakan yang Ia cintai. Entahlah, rasanya gambaran Gendhis sebagai chef profesional juga tidak terlalu terlukiskan dengan baik selain oleh tumis buncis, hehehhe!

ella

Lalu ada Ella sebagai dara nomor dua yang katanya sering bersaing dengan Gendhis. Come on! Mana persaingannya selain pada genit-genit terhadap Yudha (Rio Dewanto)? Ella memang lebih terbuka makanya Ella menjabat sebagai public relation di hotel keluarganya tersebut. Di sini, Tara Basro sama sekali tidak terlihat kalau Ia pernah menang Piala Citra. Pesonanya terkubur seiring alur film yang juga makin tak jelas juntrungannya. Ella pun jika ingin menikah tidak boleh mendahului Gendhis. Owh, ini tak adil, kemudian nyanyi. Sumpah, annoying banget!

bebe

Lain Gendhis lain Ella, lain pula Bebe. Ini dara yang terlalu berani. Paling muda tapi sudah lebih tahu urusan ranjang dibanding dua kakaknya. Oh bisa jadi diajarin oleh turis asing yang menginap berbulan-bulan di hotel milik Ella sekeluarga. Hm, bisa jadi sih, bahkan yang katanya belajar menenun pun dilakukan di kamar hotel, di atas kasur sehingga adegan selanjutnya bisa diduga.

3-dara-3

Gagasan tentang “wanita” dalam Ini Kisah Tiga Dara sudah saya duga sebelumnya, mengingat sang sutradara, Nia Dinata, turut pula mempersembahkan tentang “wanita” setidaknya dalam dua film sebelumnya; Berbagi Suami dan Arisan!.

Kemandirian, kebebasan dan keterbukaan seorang wanita digambarkan oleh Nia dalam masing-masing tokohnya, sementara Oma menjadi benang merah yang masih menjaga adat istiadat, tradisi, norma bahkan agama. Dipadu dengan suasana alam Maumere serta kearifan lokalnya membuat Ini Kisah Tiga Dara begitu cantik namun sekaligus kontras dengan nilai film yang diusungnya.

reuben

Paruh kedua film tampak melelahkan. Subplot yang kemana-mana hingga masing-masing karakter tak memiliki pijakan yang jelas akan jati dirinya. Coba lihat bagaimana seorang Ella yang naksir sama Yudha, lalu patah hati gara-gara Yudha melamar Gendhis. Saat itu Ella baru menyadari bahwa Bima (Reuben Elishama) jatuh cinta padanya sejak lama. Di bawah tembang “Semesta Punya Cara”, Ella mengobati patah hatinya ke pelukan Bima. Awalnya saya cukup senang dengan scene itu hingga Bima mencium kening Ella. Tapi ternyata dilanjut dengan berciuman bibir. OMG, haruskah ciuman bibir dilakukan begitu saja padahal Ella baru patah hati? Mungkin saya saja yang iri.

Kekecewaan saya akan kisah ini yang terlalu liar dalam menerjemahkan “wanita” berlanjut hingga akhir film. Oma yang dari awal memegang teguh prinsip seketika hilang begitu saja. Oma menjadi lebih “bijaksana” dalam menentukan siapa yang boleh nikah duluan, entah Gendis atau Ella, yang penting bisa dapet cicit. Rupanya keduluan oleh Bebe yang sudah hamil. Bebe pun dengan polosnya membuat pengakuan (cek di film bagaimana dialognya sangat menjengkelkan). Oma pun kaget dan pingsan! Wah, rupanya Oma masih pegang terus prinsip. Saya pikir film ini akan selesai. Rupanya Oma bangun lagi dan malah tertawa seakan-akan “Oh ya udah tidak apa-apa, yang penting dapet cicit meski hasil hamil di luar nikah”. Membingungkan. 😦

3-dara-4

Pada akhirnya saya hanya bisa mengapresiasi performa cetar Titiek Puspa, ekspresi bertepuk sebelah tangan Reuben Elishama dan beberapa performa Shanty yang kembali ke habitat asalnya plus alam Maumere yang nampaknya akan meningkatkan kecintaan penonton terhadap Indonesia. Selebihnya, mengecewakan!

@rajalubis_

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s