Tak Berkategori

HYPE – Southeast Asia: The Next Big Thing in World Cinema

cannes

Pada pegelaran Cannes Film Festival ke-69 bulan lalu, ada satu hal yang sangat membanggakan bagi perfilman Asia Tenggara. Tercatat ada tiga negara yang mengirim film-film panjang mereka ke ajang bergengsi tersebut yaitu Filipina, Singapura, dan Kamboja. Dan dari ketiga negara tersebut, Filipina mencatat prestasi paling gemilang dengan menyabet penghargaan “Aktris Terbaik” untuk Jacyln Jose di film Ma’ Rosa. Ini merupakan penghargaan Cannes pertama bagi Filipina (untuk kategori akting), dan filmnya sendiri merupakan garapan terbaru dari salah satu sutradara terbaik Asia Tenggara; Brillante Mendoza. Setelah menyabet Cannes, Ma’ Rosa langsung mendapatkan tanggal rilis pada 6 Juli di Filipina, meramaikan persaingan musim panas dengan film-film komersil Amerika.

ma rosa

Terlepas dari itu, apa sih yang membuat Cannes tahun ini cukup spesial bagi Asia Tenggara? Well, di artikelnya yang berjudul “Cannes: Southeast Asia, The Next Global Growth History”, Patrick Brzeski mengungkapkan tiga hal yang membuat wilayah ini sangat menjanjikan.

Pertama adalah jumlah penduduk. Patrick menulis bahwa jika seluruh negaranya digabungkan, Asia Tenggara memiliki jumlah populasi penduduk sebanyak 620 juta jiwa, hampir dua kali lipatnya Amerika Serikat. Banyaknya penduduk ini juga diikuti oleh banyaknya pembangunan bioskop yang berjalan cepat di negara-negara berkembang Asia Tenggara. Sebuah kue yang sangat lezat tentunya, baik untuk studio film lokal maupun distributor film asing.

Kedua, rata-rata penduduk Asia Tenggara masih berada di masa-masa produktif. Youthful demographic inilah yang kemudian sukses memunculkan bakat-bakat baru dan sepak terjang mereka mulai terlihat dengan sangat jelas di pegelaran Cannes tahun ini. Filipina sendiri adalah negara pesaing Amerika Serikat dan India dalam hal produksi film selama beberapa dekade.

jaclyn

Jaclyn Jose, Aktirs Terbaik The 69th Cannes Film Festival

Ketiga, masyarakat kelas menengah yang semakin meluas. Kebanyakan negara di Asia Tenggara merupakan negara berkembang, dan secara tidak langsung ini membuat Asia Tenggara menjadi hotspot distribusi film asing. Ditambah dengan populasi yang banyak dan demografi yang muda tadi, gabungan dari tiga hal ini tentu menjadi daya tarik tersendiri. Tilman Baumgartel menulis di bukunya yang berjudul “Southeast Asian Independent Cinema”, bahwa wilayah ini memiliki sejumlah negara yang merupakan negara dengan jumlah penonton bioskop tertinggi di dunia.

Transisi cepat Asia Tenggara ternyata turut disokong oleh momentum positif yang menyatukan komunitas-komunitas dan pelaku industri perfilman di banyak negara. Wilayah-wilayah berkembang mulai menegaskan eksistensi dengan percaya diri di festival film internasional. Singapura, yang mengirim dua wakil sekaligus di Cannes, menjadi salah satu contohnya. Berikut adalah lima negara yang menjadi kunci dari transisi perfilman Asia Tenggara:

  • THAILAND

Thailand menjadi “negara wajib kunjung” bagi para programmer festival film internasional. Mereka mencari film-film potensial yang nantinya akan mereka putarkan. Situasi ini tak terlepas dari banyaknya talenta berbakat yang dimiliki oleh Negeri Gajah Putih. Salah satunya adalah Apichatpong Weerasethakul, sutradara yang memenangi Palme d’Or pada bulan Mei 2010 lewat Uncle Boomee Who Can Recall His Past Lives. Tahun lalu Apichatpong kembali merilis filmnya yang berjudul Cemetery Splendor di Cannes. Namun sayang, film ini tidak dirilis di Thailand karena ditakutkan dapat menimbulkan masalah dengan pemerintah yang dikuasai oleh rezim militer sejak tahun 2014.

cenetery

Masuk ke dalam negeri ada Nawapol Thamrongrattanarit, sutradara dari Freelance, film terkahir dari studio GTH (studio film paling berpengaruh di Thailand selama 5 tahun terakhir) sebelum mereka membubarkan diri. Freelance, yang menceritakan tentang hubungan seorang desainer grafis yang overworked dengan seorang dokter muda yang cantik, menjadi film penguasa bioskop di dua minggu pertama September (total pendpatan kotor: 2.3 juta USD). Sebuah commercial hit yang diikuti oleh apresiasi positif dari para kritikus.

freelance 2

Anyway, selain talenta yang dimiliki, Thailand juga dianugerahi oleh pemandangan alamnya yang luar biasa. Tidak jarang film-film Hollywood menjadikan negara ini sebagai latar tempatnya, seperti film The Beach (2000) yang dibintangi Leonardo DiCaprio, dan No Escape (2015) yang dibintangi Owen Wilson dan Pierce Brosnan. Tahun lalu, jumlah produksi film asing di Thailand meningkat 15 persen. Fakta ini diperkirakan selain karena faktor alam, juga karena banyaknya kru yang sudah terlatih. Cina menjadi negara yang paling sering syuting di sana. Tercatat ada 48 film Cina yang di-shot di Thailand.

  • KAMBOJA

Empat faktor penting yang menjadi awal kebangkitan film-film Kamboja menurut sutradara Davy Chou adalah kombinasi dari usaha-usaha individu, tindakan dari organisiasi-organisasi perfilman lokal, dibukanya bioskop-bioskop berkualitas, dan demokratisasi digital cinema. Davy, yang memenangi Screenwriter’s Award di Cannes tahun ini lewat Diamond Island, juga mengungkapkan bahwa situasi ini sungguh berbeda dibanding enam tahun yang lalu. “Sekarang banyak filmmaker muda yang mulai membuat film pendek. Yang mana Saya tidak dapat menyebutkannya satu pun enam tahun lalu”. Menurut Davy, kemenangan dari sutradara Kulikar Sotho di Tokyo International Film Festival baru-baru ini, dan bertambahnya partisipan asal Kamboja di Asian Film Academy di Busan, menjadi pertanda bahwa perkembangan industri perfilman Kamboja berada di jalur yang tepat.

diamond

Untuk menunjang tren positif ini, Kamboja juga mulai membuka diri terhadap film-film produksi asing. Film-film Hollywood disambut hangat karena mereka tahu ini merupakan kesempatan belajar yang baik untuk kru dan teknisi lokal. Film terbaru Angelina Jolie-Pitt yang berjudul First They Killed My Father akan menjadi film produksi bersama Hollywood dan Kamboja. Film ber-genre drama yang menceritakan tentang Khmer Merah ini diharap dapat melatih kemampuan dari sejumlah besar kru dan extras lokal, yang mana proses produksinya sendiri telah dimulai pada Februari 2016.

  • VIETNAM

Berbicara mengenai Box Office domestik, Vietnam boleh bersenang diri. Box Office Vietnam tumbuh sekitar 10 persen di tahun 2015 dengan raihan pendapatan mencapai 85.2 juta USD. Kenaikan ini timbul berkat panennya pembuatan film lokal di mana kini film lokal bisa rilis di setiap minggunya. Hal ini tentu sangat kontras dengan lima tahun lalu, di mana audiens mungkin hanya bisa menyaksikan sepuluh film lokal di sepanjang tahun.

vietnam

Namun, berbeda dengan Thailand yang sudah memiliki talenta-talenta berkualitas, Vietnam masih bergulat dengan hal tersebut. Negara ini masih kekurangan tenaga profesional, yang mana dipandang sebagai faktor penghalang terbesar bagi tumbuh kembangnya industri perfilman lokal dan meluasnya peluang bisnis di sana. “Dari scriptwriters, editor, colorists, Vietnam masih masih membutuhkan tenaga-tenaga profesional mumpuni untuk bisa bersaing dengan perkembangan industri ini,” ungkap produser Tran Thi Bich Ngoc. Untuk mengatasi hal ini. Tran, bersama dua sutradara lokal ternama, Phan Dhang Di dan Tran Anh Hung, membuat sebuah forum perfilman bernama The Autumn Meeting. Di sana mereka menyelenggarakan beberapa workshop bersama demi kemajuan perfilman nasional.

  • MALAYSIA

munafik 2Peran pemerintah dalam mendukung industri perfilman lokal terlihat jelas di Malaysia. Pada tahun 2013, pemerintah Malaysia memperkenalkan 30 persen potongan harga untuk meng-cover pengeluaran dari seluruh film dalam negeri. Insentif ini diberikan bertepatan dengan peluncuran Pinewood Iskandar, sebuah studio film yang dibuat oleh pemerintah seharga 150 juta USD.

Seiring berjalannya waktu, potongan harga dan dibangunnya Pinewood Iskandar ini menunjukkan efek yang diinginkan. Serial Marco Polo (Netflix), yang diproduksi oleh The Weinstein Company, telah menendatangani kontrak untuk syuting season kedua di sana. Kemudian Imaginarium Studios milik Andy Serkis juga mengumumkan pada bulan Maret bahwa mereka akan meluncurkan specialist performance-capture dan creation hub di fasilitas Pinewood Iskandar. Harapannya? Jelas. Pemerintah ingin talenta-talenta internasional yang berkonsentrasi di Pinewood Iskandar bisa memberikan skill mereka kepada para pekerja film lokal. Harapan ini muncul seiring dengan semakin banyaknya teknisi dan staf dari berbagai proyek perusahaan dalam negeri yang turut memadatkan Pinewood Iskandar.

munafik

Untuk film-film mereka, pemerintah melalui Badan Pengembangan Film dan Konten Kraetif Malaysia menampilkan film-film lokal setiap tahunnya di program “Malaysia Goes to Cannes”. Tahun ini program tersebut berjalan dari 16-20 Mei, di mana lima film Malaysia yang dinilai exportable akan diputar untuk para calon pembeli internasional.

  • SINGAPURA

yellowbirdTahun ini adalah tahunnya Singapura. Mereka berhasil mengirim dua film sekaligus ke Cannes: Apprentice (Boo Junfeng) di kategori Un Certain Regard, dan A Yellow Bird (K. Rajagopal) di International Critic’s Week. Prestasi ini semakin melengkapi apa yang diraih Ilo Ilo (Anthony Chen) di tahun 2013. Film ini sukses meletakkan Singapura di peta persaingan dunia dengan memenangi Camera d’Or. “Ini adalah sebuah pencapaian penting bagi kami,” ungkap Chen. “Sebuah prestasi yang sangat nyata bagi negara berukuran kecil seperti Singapura”. Satu hal yang dapat kita lihat di sini, film-film Singapura yang tidak biasa dihasilkan di dalam negeri (bahkan mungkin berbeda dengan imej Singapura yang selama ini kita kenal) justru mendapatkan pengakuan dari dunia internasional. Apprentice adalah film yang menggambarkan sistem hukuman yang ada di Singapura, sedangkan A Yellow Bird adalah tentang narapidana yang mencoba untuk memperbaiki hidupnya setelah menjalani hukuman penjara.

app

Lebih jauh, Singapura telah dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat kehadiran penonton di bioskop tertinggi di dunia (4.2 juta kunjungan per orang per tahun). Namun, pendapatan Box Office mereka cenderung stagnan, yaitu di angka 161 juta USD. Menurut Chen, hal tersebut justru dapat membantu industri pefilman lokal untuk meluaskan pengaruhnya karena menurutnya filmmaker harus melihat ke dalam negaranya terlebih dahulu. Istilah kerennya: before you go out of the box, you have to know inside your box. “Daripada memikirkan apa yang dapat menarik minat audiens luar, kita harus memulainya dengan apa yang dapat menarik minat penduduk lokal; kisah yang orisinil, cerita yang berani, dan hal yang dapat mengungkapkan pengalaman negeri ini dengan lebih luas lagi,” Mengapa hal-hal tersebut yang ditonjolkan? “Karena keaslian ini yang berhasil menciptakan minat dan daya tarik global”.

sumber:

  • Baumgartel, Tilman. 2012. Southeast Asian Independent Cinema: NUS Press Singapore
  • Brzeski, Patrick. “Cannes: Southeast Asia, The Next Global Growth History“. The Hollywood Reporter. 12 Mei 2016. http://www.hollywoodreporter.com/lists/cannes-southeast-asia-next-global-893052. 8 Juni 2016

@adam_sarga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s