What We Say

WHAT WE SAY – 1 CINTA DI BIRA

bira 1

Director                : Arnandha Wyanto

Starring                : Fauzan Nasrul, Cinta Rarung, Diny Arishandy, Awaluddin Tahir, Hasan Kuba, Nawir Parenrengi, Erik Suwanto, Wiwiek Sumario

Score                     : 6,5/10

“Tema Potensial Tapi Digarap Serba Tanggung”

Kearifan lokal dan panorama menawan sebuah daerah di Indonesia sangat potensial menjadi sebuah film yang tak hanya memanjakan mata tapi juga memiliki kesan dan pesan. Film 1 Cinta di Bira ini memiliki unsur-unsur tersebut. Akan tetapi film ini digarap serba nanggung sehingga setelah menonton film ini yang masih melekat di benak hanya panorama cantik Bira.

Saya termasuk yang optimis dan menunggu-nunggu penayangan film 1 Cinta di Bira di bioskop. Sejak mendapat pemberitahuan dari MNC Pictures tentang film ini, saya berharap bisa menontonnya di bioskop Jakarta. 1 Cinta di Bira awalnya memang hanya direncanakan tayang di bioskop Kalimantan dan Sulawesi, akan tetapi setelah melihat respon positif netizen setelah melihat trailer-nya maka film ini juga dirilis di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi.

bira 5

Yang membujuk saya untuk menonton film ini adalah kapal pinisi. Sejak dulu saya mengagumi keindahan desain dan ketangguhan kapal ini yang digunakan oleh pelaut Bugis menjelajah hingga ke Jawa dan juga mancanegara. Bahkan kapal pinisi juga pernah melawat ke Amerika dan Kanada sehingga keandalannya begitu teruji. Sayangnya keinginan saya untuk mendapatkan kisah kapal pinisi dari pinisi pupus. Kapal kebanggaan warga Bira dan warga di daerah Sulawesi ini hanya dijadikan sebagai latar cerita yang tidak digali lebih dalam. Sangat disayangkan kisah kapal tersohor ini seolah-olah hanya sebagai tempelan cerita. Padahal pinisi konon hanya bisa diproduksi di tiga daerah di Sulawesi Selatan, salah satunya warga Bira.

Oke sebelum membahas lebih detail tentang film ini, saya akan mengisahkan film berjudul 1 Cinta di Bira. Film ini bercerita tentang masa-masa dilematis yang dialami Iqbal (Fauzan Nasrul) setelah ayahnya meninggal. Sejak dewasa ia merasa kurang sepaham dengan pandangan ayahnya. Oleh karenanya selama enam tahun ia tidak pernah kembali ke kampung halamannya. Saat kembali ke daerah asalnya, Bira, ia seperti sosok asing, meskipun ia tetap disambut hangat oleh para pekerja ayahnya yang memiliki usaha memproduksi kapal pinisi dan memiliki beberapa kapal yang biasa dipinjam warga.

Selama beberapa hari di Bira, Iqbal merasa tidak betah dan ingin segera kembali ke Jakarta. Ia tidak tertarik meneruskan usaha kapal pinisi ayahnya. Iapun berniat menjual kapal dan tanah ayahnya. Namun di saat ia begitu ingin segera menjauh dari Bira ia malah jatuh dari perahu yang dinaikinya dengan sembrono. Ia selamat. Iqbal yang merasa lolos dari maut melihat seorang gadis cantik di sampingnya sebelum ia kemudian kembali lunglai. Ia terkejut ketika melihat gadis tersebut nyata. Ia pun menyebut Devi (Diny Arishandy) sebagai penjaga laut Bira.

Di saat ia merasa senang, ia bertemu dengan dua kakak beradik, Olla (Cinta Rarung) dan Enre (Erik Suwanto) yang nampak begitu membencinya. Kedua kakak beradik itu misterius, membuat Iqbal diam-diam merasa penasaran. Ia pun lalu mengikuti Olla yang menunjukkan alasan mengapa ia dan warga di Bira sangat menghormati ayahnya. Ia juga menunjukkan tempat-tempat menawan di Bira yang sekiranya bisa membujuk Iqbal untuk membatalkan niatnya menjual tanah dan usaha pinisi warisan ayahnya. Namun Iqbal adalah pemuda yang keras kepala dan tidak mudah terbujuk. Olla pun merasa usahanya hanya sia-sia.

bira 4

Ada berbagai hal yang membuat saya agak kecewa dengan film ini selain unsur pinisi yang saya sebutkan sebelumnya seolah hanya sebagai tempelan. Film ini bagi saya seperti sekedar FTV dengan kualitas standar yang diboyong ke layar lebar. Dari segi akting tidak ada yang menonjol, semua berakting standar bahkan beberapa pemeran utama malah kurang bisa menumbuhkan simpati penonton. Saya melihat tokoh utama seperti Iqbal dan Devi sebagai karakter yang annoying bak remaja alay yang mudah galau.

Premisnya sebenarnya sudah baik, tetapi digarap dengan tidak tuntas. Hikayat penjaga laut Bira sebenarnya materi yang baik dan bisa dieksplorasi sehingga menimbulkan rasa penasaran penonton. Atau juga bisa ditonjolkan panorama Bira yang sungguh menawan dan kehidupan para nelayan di sana sehingga kekuatiran Olla terhadap masa depan Bira seandainya Iqbal jadi menjual tanah dan usaha warisan ayahnya bisa menjadi alasan yang kuat.

bira 3

Di luar keterbatasan di atas, saya mengapresiasi niat MNC Pictures untuk mengangkat kearifan lokal dan panorama menawan di berbagai daerah. Rupanya niat tulus tidak cukup, premis yang kuat dan berbagai unsur lainnya juga perlu untuk membuat film bisa dikatakan berkualitas dan bermakna.

@dewi_puspa00

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s