Tak Berkategori

WHAT WE SAY – GREEN ROOM

green 1

Director: Jeremy Saulnier

Starring: Anton Yelchin, Imogen Poots, Alia Shawkat, Joe Cole, Callum Turner, Patrick Stewart

Score: 8/10

Green Room: Punk dan Neo-Nazi di Ruang Hijau

Pagi hari di ladang jagung dengan kondisi mobil nyusruk, pengemudi tertidur di roda, kehabisan gas, nihil bekal makanan, dan segala kerepotan lainnya dalam melanjutkan tour manggung di Portland, menjadi pembuka film karya Jeremy Saulnier, sutradara dan penulis kawakan asal Amerika Serikat. Bersama para pemain dan tukang ambil dan edit gambar, Saulnier berhasil melanjutkan kisah tersebut dengan lebih antah berantah nan gahar.

saul

Sutradara Jeremy Saulnier

Saulnier mengakali filmnya yang berdurasi 93 menit ini agar tidak berbelit-belit berkutat dalam pengantar permasalahan. Cukup dengan menceritakan bahwa Pat (Anton Yelchin), Reece (Joe Cole), Sam (Alia Shawkat), Tiger (Callum Turner) yang semuanya merupakan anggota grup band punk The Ain’t Right, mengalami kesusahan finansial dan kelaparan dalam melanjutkan perjalanannya ke tempat-tempat manggung yang dijanjikan oleh sang promotor, Tad (David W Thompson). Saulnier menciptakan jembatan penghubung  yang mampu menjawab kenapa The Ain’t Right bisa hadir di bar markas skinheads Neo-Nazi menghimpun gerakan.

green 2

Kecemasan dan kengerian baru hadir dalam film ini setelah The Ain’t Right manggung dan Pat mendapati seorang gadis, Rene (Taylor Reene) terseok-seok dengan pisau tertancap tepat di kepalanya, ketika mengambil telepon seluler milik Sam yang tertinggal di ruang tunggu di belakang panggung atau green room. Diceritakan Pat memutuskan memanggil polisi begitupun dengan teman dari gadis malang tersebut, Amber (Imogen Poots).

green 3

Neo-Nazi tidak ingin mereka memanggil polisi, Darcy (Patrick Stewart), pemimpin Neo-Nazi pun melakukan segala cara agar mereka tidak pergi dan melapor polisi. Dari sini misi melarikan diri  The Ain’t Right, setelah terjebak dalam ruang sempit 3×4 tanpa ventilasi selama 16 jam dimulai. Dari sini pula ciri khas setiap karakter terlihat dan begitu konsisten sampai akhir hidupnya. Semuanya diberikan kesempatan merespon setiap kejadian dan membiarkan kepribadian karakter menuntun raganya melakukan kesalahan.

Dengan seting punk melawan Neo-Nazi, Saulnier menerapkan berbagai komedi hitam yang didasari dari observasi sisi gelap kehidupan sehari-hari dan isu aktual politik dari kedua kubu. Selain itu, seting tersebut juga dibuatnya untuk memudahkan penonton dalam membedakan protagonis dan antagonis.

green 6

Dalam menciptakan panik, kecemasan, teror dan horor, Saulnier memanfaatkan tekstur gambar yang realistis, kebisingan, dan permainan kosakata sulit terkait penjagalan. Cekcok mulut diiringi pengeras suara rusak beserta musik punk dan metal dari setiap band yang manggung membuat tensi narasi semakin genting dan beringas. Berbagai kosakata sulit terkait penjagalan membuat konflik dengan golok, parang, dan anjing galak nan buas semakin mengerikan. Daging manusia menyeruak keluar dari tubuh dan berserakan, darah berlumuran dilantai dan taring dari anjing yang digunakan.

green 5

Plot dalam film yang telah beredar di bioskop Indonesia pada 18 Mei ini terasa sengaja dibuat rumit oleh Saulnier. Banyak premis-premis penting yang hanya dituturkan dengan singkat dan tidak digambarkan dengan adegan. Seakan dibuat rahasia dan terselubung, senada dengan perkataan Darcy “ini bukan pesta, ini adalah sebuah gerakan”.

@Bonny_nur / Suma UI

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s