Tak Berkategori

WHAT WE SAY – EYE IN THE SKY

MV5BODU1MDA4NjU1M15BMl5BanBnXkFtZTgwNjgyNzg2NzE@._V1_SX559_CR0,0,559,828_AL_

Director: Gavin Hood

Starring: Helen Miren, Alan Rickman, Lex King, Aaron Paul, Barkhad Abdi, Iain Glen, Aisha Takow

Score: 8,5/10

Aksi Tumpas Teroris Gaya Baru di Eye in The Sky

Pepatah “Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati” sepertinya sesuai dengan film Eye in The Sky. Mereka berupaya mencegah aksi bom bunuh diri dengan bantuan mata-mata di angkasa. Namun rupanya untuk menghasilkan bentuk putusan terbaik perlu perdebatan yang alot dari sisi legalitas politis, dan manusiawi.

Alkisah intelijen Inggris akhirnya menemukan warga Inggris dan Amerika yang masuk dalam daftar hitam teroris dunia. Mereka menjadi pemimpin kelompok ekstrimis Al-Shabaab di Nairobi, Kenya. Sudah terjadi berbagai aksi terorisme yang menumpahkan banyak korban jiwa yang dimotori oleh kelompok tersebut.

Susan Helen Danford (Lex King) adalah salah satunya. Wanita ini sebelumnya adalah warga negara Inggris, yang kemudian beralih menjadi ekstrimis. Ia tersangkut dengan berbagai aksi teroris dan setelah enam tahun, jejaknya mulai terendus oleh intelijen dan juga mata-mata di angkasa. Mereka mengetahui jejak Susan melalui sebuah drone militer.

helen

Nun jauh di sana, Kolonel Katherine Powell (Helen Mirren) merasa lega sekaligus was-was karena beberapa dedengkot teroris telah diketahui melakukan pertemuan dan kini mereka berada dalam sebuah rumah. Namun, pengintai dari angkasa mengalami kesulitan melihat isi rumah dari dekat sehingga diutuslah mata-mata lokal, Jama Farah (Barkhad Abdi) untuk mengendalikan robot mata-mata berbentuk kumbang. Dari kamera robot tersebut terlihat hal yang tak terduga. Sejatinya tindakan yang dilakukan hanya berupa penangkapan dengan bantuan tentara Kenya, tapi melihat situasi terkini hal itu tidak memungkinkan.

Semua yang terlibat dalam misi ini menjadi gundah. Akhirnya, mereka menunggu putusan Letjen Frank Benson (Alan Rickman) bersama pemerintah Inggris di mana mereka juga berkonsultasi dengan pihak Amerika. Putusan semakin sulit dan dilematis ketika mempertimbangkan jatuhnya para korban sipil dalam misi ini.

IMG_20160418_093334

Cerita ini mungkin bisa disebut perang melawan terorisme gaya baru. Tidak ada pasukan militer yang siap bertempur langsung di medan laga, yang ada adalah kamera pengintai dari reaper drone sebagai eye in the sky. Dari kamera inilah para petinggi militer dan para menteri mempertimbangkan strategi untuk membungkam aksi terorisme. Uniknya, mereka yang terlibat dalam aksi ini tidak berada di satu tempat. Kolonel Katherine yang menjadi penanggung jawab misi berada di markas militer Northwood, Inggris. Kedua pilot drone berada di Nevada, Amerika sedangkan para pengambil keputusan ada di London. Yang ada di negara Kenya adalah petugas yang mengendalikan robot dan tentara sipil yang disiagakan untuk operasi penangkapan.

Pengambilan keputusan untuk menangkap hidup-hidup atau menghabisi nyawa teroris inilah yang dibidik dalam film ini. Begitu menegangkan, karena kesalahan sedikit bisa menyebabkan korban sipil berjatuhan dan menyulut konflik antarnegara. Perdebatan pun berjalan alot di mana membuat Katherine yang telah bertahun-tahun mengejar Susan begitu frustasi karena ia kuatir sasarannya bakal lolos dan membuat kekacauan yang lebih besar.

eye-in-the-sky-eits_00961_crop_rgb

Musik pengiring dalam film ini mampu membuat penonton begitu tegang. Begitu juga kejutan demi kejutan yang terjadi di tempat yang akan disasar membuat penonton (termasuk saya), semakin gelisah sekaligus geli.

Musiknya digarap dengan cermat sesuai dengan situasi di film yang membuat Katherine dan krunya begitu tegang.  Musik ini bagi saya terasa mengintimidasi. Film score ini digubah oleh duo Mark Killian dan Paul Hepker yang pernah meraih Oscar pada tahun 2005.

eye

Ya, film ini mampu mengacak-acak emosi penonton karena begitu menegangkan sekaligus juga kocak jika mengingat perdebatan antar menteri yang berlarut-larut. Ada beberapa menteri yang begitu sulit dihubungi sementara waktu semakin mendesak.

Di film ini yang menonjol adalah akting dari Helen Miller sebagai Kolonel Katherine, Alan Rickman sebagai Letjen Frank Benson, bersama para menteri, dan Aisha Takow sebagai gadis cilik bernama Alia yang hidup di daerah konflik tersebut. Merekalah yang memainkan emosi dalam film ini.

TA3A6837.CR2

Selain ketegangan yang muncul dalam film ini, saya juga menyukai komedi satir yang dihadirkan. Film ini juga merupakan penghormatan bagi Alan Rickman (alm) yang terkenal berkat perannya sebagai Profesor Severus Snape di film-film Harry Potter. Film ini satu di antara dua film terakhirnya sebelum Beliau wafat Januari silam.

Perasaan saya menjadi campur aduk setelah menonton film ini. Bayangkan, jika ada drone militer dengan senjata mematikan berada di cakrawala Indonesia. Ia bisa sewaktu-waktu melontarkan misil dengan pilotnya yang berada nun jauh di sana. Wah, bisa sangat menyeramkan ya! Mudah-mudahan Eye in The Sky ini tidak beroperasi sembarangan dan tidak ada drone yang digunakan tanpa ijin.

eye 2

Secara keseluruhan film ini sangat saya rekomendasikan. Film perang gaya baru yang mencekam dan begitu emosional, namun juga ada unsur lucunya. Film kenang-kenangan dari Profesor Snape yang begitu memukau.

@Dewi_Puspa00

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s