Tak Berkategori

WHAT WE SAY – ISENG

iseng 1

Director: Adrian Tang

Starring: Donny Damara, Donny Alamsyah, Tio Pakusadewo, Wulan Guritno, Yayan Ruhian, Ayushita, Cecep Arif Rahman, Fauzi Baadila, Fandy Christian, Khiva Iskak, Zuli Silawanto, Siti Badriah, Frida Tumakaka, Kho Michael, Melinda CSM, Eveline Kurniadi

Score: 8.2/10

Film Iseng yang Bukan Sekedar Proyek Iseng

Film Iseng yang disutradarai Adrian Tang benar-benar di atas ekspektasi saya. Meskipun judulnya agak kurang komersil, film ini bukan sekedar proyek iseng dengan plot cerita dan akting ala kadarnya. Sebaliknya, Iseng menawarkan alur cerita yang terserak menjadi kepingan-kepingan namun kemudian menyatu dengan baik.  Tak perlu berbasa-basi, Iseng langsung menyodorkan konflik utamanya, yaitu misteri pembunuhan di sebuah apartemen. Ludi (Donny Alamsyah) nampak gugup dan tidak percaya diri ketika ditanya atasannya (Donny Damara) tentang pelaku dan motif pembunuhan karena kurangnya barang bukti. Cerita kemudian flashback ke kejadian 24 jam sebelumnya. Ada berbagai kepingan kisah dari berbagai penghuni Jakarta yang kemudian bersinggungan satu sama lain.

iseng 3

Satu kepingan diisi cerita perselingkuhan pengusaha bernama Irwan (Tio Pakusadewo) dengan wanita yang memiliki sebutan Love atau Baby (Viola Arsa). Di tempat lain ada gadis tomboy, Jo (Frida Tumakaka) yang kecewa kekasihnya, Ren (Ayushita) bepergian ke Surabaya, namun gerutuannya sirna tatkala berkenalan dengan dara jelita yang genit bernama Chica (Eveline Kurniadi). Ada pula kisah tiga preman yang memiliki relasi kuat dengan seorang supir. Di tempat berbeda ada kisah Dian (Fany Fanya) yang gundah mengikuti jejak kawannya, Kiki (Manda Cello), menjadi penjaja wanita. Kepingan lain diisi oleh karyawati senior, Fany (Wulan Guritno) yang miris melihat ulah rekan juniornya yang suka mempermainkan pria. Juga ada kisah pemilik restoran, Helen (Dayu Wijayanto) yang merasa aneh dengan tindak-tanduk kokinya, Denis (Kho Michael).

iseng 1

Kepingan-kepingan tersebut kemudian saling mengisi membentuk satu rangkaian cerita. Hukum alam, sebab-akibat pun berlaku ke setiap tokoh, dimana perbuatan yang berlandaskan atas iseng ataupun keputusan untuk mencoba-coba sesuatu memiliki konsekuensi masing-masing. Wuih! saya ingin bertepuk tangan keras-keras dan mengucapkan selamat atas jerih payah Adrian Tang dan seluruh kru film Iseng. Filmnya benar-benar di luar prediksi saya. Lebih menarik dan ceritanya lebih kompleks dari yang saya bayangkan.

iseng 5

Awalnya saya ingin menonton film ini setelah melihat jajaran pemainnya. Ada nama  Donny Damara, Wulan Guritno, Ayushita, dan Fauzi Baadilah, serta alumni film The Raid 1 dan The Raid 2 seperti Tio Pakusadewo, Donny Alamsyah, Yayan Ruhian, Cecep Arif Rahman, Zuli Silawanto dan Kho Michael. Saya sudah bayangkan akan ada sebuah aksi laga yang dahsyat, aksi tembak-tembakan atau setidaknya ada baku hantam dengan koreografi pertarungan yang apik.

Alih-alih adegan laga yang penuh baku hantam, film ini lebih mengarah ke drama bagaimana interaksi antar tokoh dan penggalian karakter tiap-tiap tokoh tersebut. Namun, bukan berarti filmnya jadi buruk tapi malah menjadi sebuah kejutan.

iseng 4

Saya sudah membayangkan ada aksi laga yang melibatkan Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman, tapi rupanya kedua ahli silat ini tidak memamerkan jurus-jurusnya. Mereka malah mendapatkan peran yang tak disangka-sangka. Kejutan ini manis. Yayan bisa mengasah kemampuan aktingnya dengan mencoba-coba berbagai peran dan di Iseng ia mampu menunjukkannya dengan mencoba peran yang berbeda dengan di film-film sebelumnya. Sayang, porsi Cecep Arif Rahman tidak begitu banyak. Apakah memang ia hanya tampil sekilas atau banyak bagiannya yang dipotong?

Yang juga menjadi hal menarik di film ini, jajaran bintang beken selain Tio Pakusadewo dan Wulan Guritno juga tidak banyak berkontribusi dalam Iseng. Lagi-lagi saya bertanya apakah mereka memang hanya mendapatkan bagian itu atau adegan mereka dibabat habis oleh sensor.

iseng 2

Film Iseng juga tak luput dari keterbatasan. Sebelum separuh film, penonton sudah bisa menebak pelaku pembunuhan tersebut. Para pembunuhnya juga menurut saya agak ceroboh atau mungkin karena pembunuhannya terlalu mendadak sehingga mereka bekerja tidak rapih. Tapi di luar itu, film ini memberikan gambaran besar suatu peristiwa yang sebenarnya tidak bisa diteropong hanya dari satu momen, karena ada peristiwa-peristiwa lain yang mendasarinya. Peristiwa yang kompleks, kelam dan terinspirasi oleh kisah nyata seperti perselingkuhan, prostitusi, dan LGBT.

iseng 3

Setelah menonton film yang diproduksi Absolute Pictures ini saya jadi ingin menonton lagi karena merasa ada berbagai petunjuk tersebar atau mungkin detail yang saya lewatkan. Saya juga menduga-duga bagian mana yang dipotong oleh Lembaga Sensor Film (LSF). Sensor film Iseng sepanjang 20 menit hingga tersisa 100 menit bagi saya cukup signifikan dan mudah-mudahan bukan adegan yang bermakna. Oh ya! Karena ada banyak adegan kekerasan dan adegan dewasa maka film ini dibatasi oleh LSF untuk penonton usia 21 tahun ke atas.  Jadi jangan ajak adik-adik Kalian yang masih kecil untuk menonton film ini.

@dewi_puspa00

Advertisements

2 thoughts on “WHAT WE SAY – ISENG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s