Tak Berkategori

WHAT WE SAY – MIDNIGHT SHOW

ms 1

Director : Ginanti Rona

Starring : Acha Septriasa, Gandhi Fernando, Ratu Felisha, Ronny P. Tjandra, Ganindra Bimo, Zack Lee, Daniel Topan, Arthur Tobing, Ade Firman Hakim

Score : 7.5/10

SPOILER ALERT!

Akhirnya rilis juga film yang saya tunggu sejak tahun lalu. Berlatar di gedung bioskop tua, film ber-genre thriller-slasher ini mengingatkan saya pada film Janji Joni (2008) yang juga melibatkan karyawan bioskop sebagai tokohnya. Selain rindu pada suasana vintage dari bioskop tua, pecinta film lokal juga pasti merindukan film slasher yang berkualitas dengan para psikopatnya yang mempesona. Midnight Show adalah jawaban dari kerinduan tersebut.

pak johan

Film ini bercerita tentang pembunuhan misterius di dalam bioskop Podium yang hampir bangkrut. Pemilik bioskop, Pak Jo ( Ronny P. Tjandra ), mencoba menarik penonton dengan menayangkan Bocah, film kontroversial yang sempat ditarik dari pasaran. Bocah diilhami dari kisah nyata seorang bocah “spesial” bernama Bagas yang membunuh kedua orangtuanya saat berusia 12 tahun. Meskipun Bocah sedang “now showing” di bioskop Podium, hanya empat penonton yang datang karena malam itu sedang hujan. Karyawan bioskop Podium, Naya ( Acha Septriasa ) dan Juna ( Gandhi Fernando ), tidak menyangka bahwa film yang ditayangkan pada pukul 23:30 tersebut menjadi bencana di dalam bioskop. Seorang penonton ditemukan tewas terbunuh, dan pembunuhnya akan segera mencari korban selanjutnya. Siapakah pembunuh itu? Dan, apa motifnya? Apakah berkaitan dengan film Bocah atau hanya perampokan biasa?

ms 1

Dengan premis yang “out of the box”, Midnight Show mampu menampilkan sajian yang berdarah-darah, lengkap dengan suasananya yang mencekam. Tata suaranya pun menambah rasa takut penonton, apalagi temponya semakin tegang saat sang pembunuh bertopeng datang. Sebagai debut perdana dari garapan Ginanti Rona, film ini terbilang sukses membuat teror yang mengerikan di dalam bioskop. Setiap darah terbuang dengan sangat efektif. Jejak darah terlihat misterius tapi indah di atas lantai. Saat menontonnya, saya pun merasa ngeri jika ada pembunuh seperti dalam film tersebut. Berlatar tahun 1998, film ini mengajak saya bernostalgia dengan artistik yang rapi dalam setiap sudut bioskop Podium. Bahkan, tidak ada satu pun handphone yang ada dalam film ini, sehingga tidak ada alasan klasik “tidak ada sinyal atau tidak ada pulsa” yang dialami oleh para tokoh. Komunikasi hanya bergantung pada satu-satunya telepon di ruangan Pak Jo.

acha

Untuk peran dari masing-masing pemain, saya mengagumi tokoh Naya dan Tama yang diperankan dengan sangat baik oleh Acha Septriasa dan Ganindra Bimo. Dalam adegan Naya yang menangis memohon “JANGAN SAYA JANGAN”, rasanya saya ingin bertepuk tangan untuk Acha. Sebelum adegan itu, terjadi pembunuhan berturut-turut yang tidak membuat saya takut. Namun, setelah Naya memohon seperti itu kepada sang pembunuh, saya langsung merasa ngeri. Tidak heran lagi jika Acha bisa berakting sebagus itu. Selain Acha, kehadiran Bimo mampu membuat suasana kian terancam. Bimo sangat menikmati perannya sebagai Tama, sutradara film Bocah, yang keluarganya terancam karena karyanya tersebut. Apalagi, Bimo mampu mempermainkan penonton tentang siapa dia sebenarnya atau apa perannya dalam film ini. Adegan film Bocah yang “sebenarnya” ( you will know this after watching ) adalah adegan paling epik dari setiap film thriller-slasher lokal yang pernah saya tonton. Paksaan, ancaman, air mata, borgol, tali, pisau menjadi elemen-elemen pendukung yang pas untuk bunuh-membunuh.

ms 3

Namun sayang, di antara keunggulan-keunggulan tersebut di atas, film ini tidak luput dari kekurangan. Salah satunya adalah adegan-adegan sadis yang sebenarnya tidak sadis karena adanya sensor yang tidak rapi. Adegan gorok-menggorok leher adalah adegan yang saya tunggu-tunggu, tetapi adegan tersebut sama sekali tidak terlihat atau langsung loncat ke adegan berikutnya. Mungkin adegan tersebut harus dipotong oleh lembaga sensor dan berada di luar kendali filmmaker dari Midnight Show, tapi pemotongannya sangat kasar dan merusak esensi dari tema slasher itu sendiri. Tusuk-menusuk juga hanya terlihat di beberapa bagian saja, contohnya paha, kaki, dan perut. Selain bagian itu? Kena sensor. Sungguh tidak mengasyikkan! 😦

lusi

Kelemahannya lainnya adalah kurangnya eksplorasi terhadap beberapa tokoh, misalnya Alan si satpam, Lusi si cleaning service, dan Guntur si pembajak. Alan adalah pemegang kunci bioskop, tetapi perannya sangat sedikit dan terkesan kurang penting. Penonton tidak dijelaskan tentang tokoh dan asal usul Lusi, padahal ia adalah tokoh penting yang akan membuat penonton tercengang di akhir film. Lalu, penonton juga dibuat bingung dengan si pembajak yang tidak ikut menonton Bocah, padahal ia sudah siap dengan kameranya. Si pembajak yang hanya bikin onar tersebut ditemukan terbunuh, tetapi tidak di dalam studio bioskop. Ketidakjelasan ini membuat saya bingung apakah si pembajak dibunuh sebelum atau setelah film Bocah dimulai. Setidaknya diberikan beberapa detail sebagai hints tentang pembunuhan tersebut.

bagas

Hal-hal yang kurang logis lainnya juga ditemukan pada Lusi yang bertahan hidup setelah kakaknya dipenjara, padahal Lusi adalah yatim piatu yang ditinggal mati oleh orangtuanya sejak kecil. Selain itu, para korban dan calon korban si pembunuh bertopeng tiba-tiba terikat di dalam studio bioskop dengan menduduki kursi bioskop di row yang sama. Cara si pembunuh mengikat tangan dan kaki mereka satu per satu tidak digambarkan sama sekali. Padahal, seharusnya tiga survivors ( Naya, Juna, Sarah ) itu bisa melawan si pembunuh secara berbarengan. Unfortunately, they looks so dummy and weak. Motif Bagas membunuh orangtuanya juga tidak dibeberkan. Bagas diceritakan sering berbicara sendiri dengan sosok yang tidak terlihat. Sosok tersebut selalu menyuruh Bagas melakukan hal-hal negatif tanpa Bagas tahu baik dan buruknya. Nah, sosok itulah yang masih abstrak dalam film ini. Saya menduga sosok tersebut hanyalah sisi gelap Bagas akibat tekanan psikologis dalam keluarganya ( persis seperti yang dialami tokoh Gambir dalam Pintu Terlarang ). Namun, mungkin saja benar-benar ada sosok mistis semacam hantu atau iblis yang mempengaruhi pikiran Bagas. We’ll not know what it is. Maybe the filmmaker just lets us freely imagine the form of it.

ms

Terlepas dari kekurangan tersebut, Midnight Show berpotensi untuk dibuatkan sekuelnya karena tokoh protagonis dan antagonisnya masih hidup!  And yes, i’m so excited to wait for it.

@baldafauziyyah

Advertisements

4 thoughts on “WHAT WE SAY – MIDNIGHT SHOW

  1. Aku pikir tokoh Alan sudah cukup penjelasannya, karena kalau lebih, nanti bisa merusak fokus di tokoh utamya nya, begitu juga dengan Lusi, dia sudah dijelaskan dengan detail di akhir, kalau di awal, nanti jadi ketebak. Kalau si pembajak, dia juga cukup, karena sebagian penonton juga sempat mengira dia sebagai dalangnya, karena dia sempat menghilang sepanjang film.

    Nice review, gara2 kamu spoiler, aku jadi ikut2 agak spoiler, haha

    #BanggaFilmIndonesia

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s