Tak Berkategori

WHAT WE SAY – ANOTHER TRIP TO THE MOON

movie-avatar-imgDirector     :  Ismail Basbeth

Starring     :  Tara Basro, Ratu Anandita, Cornelio Sunny, Endang Sukeksi, Mila Rosinta Toto Atmojo

Buat Cinefellas yang nggak asing dengan gaya penceritaan film Edwin, pasti suka juga dengan Another Trip to the Moon! Ya, gaya penceritaan film ini linear, dengan akting teatrikal dan merupakan film eksperimental. Di film surreal ini, beberapa dunia yang berbeda: tradisional, modern, dan mistis jadi satu (tidak bisa dibayangkan kan, Cinefellas? :D), menggelitik kami di tengah-tengah film senyap dan berjalan lambat tapi menghipnotis ini. Eksperimen tidak hanya sampai disitu. Film ini bukan film bisu meskipun tokoh tidak berbicara satu sama lain. Suara bersumber dari alam, binatang, dan mantra-mantra di sepanjang film.

1

Film ini adalah produksi bersama Ismail Basbeth (Bosan Berisik Lab) dan Andhy Pulung (Super 8mm Studio) bekerja sama dengan Suryo Wiyogo dan Cornelio Sunny (Hide Project Films) serta Amir Pohan (Buttonijo Films) dengan bantuan dana dari Hubert Bals Fund lembaga Funding milik International Film Festival Rotterdam, serta didukung oleh SAE Indonesia. Meskipun merupakan film panjang pertama Mas Ismail, film ini mampu masuk kompetisi bergengsi Tiger Awards Competition di International Film Festival Rotterdam 2015  dan langsung dipanggil untuk ditayangkan di Moscow Film Festival! WOW!

6

Ismail Basbeth bereksperimen menggabungkan lebih dari satu disiplin seni menjadi sebuah film, “Karena yang saya lihat film-film selama ini kanibal, membuat film inspirasinya dari film juga. Jadi saya buat sebuah film dari disiplin seni-seni yang lain,” terangnya. Binatang-binatang, baik bertubuh setengah manusia yang menari-nari maupun binatang dari wayang kertas sederhana turut hadir dalam film. Malah awalnya, Mas Ismail yang selalu membuat film berdasarkan perasaannya yang rumit, menulis naskah film ini dalam bentuk puisi.

2

Ide awal pembuatan film ini muncul ketika ia sedang berbincang di Berlin dengan aktris Ladya Cheryl tentang hal yang mengganjal hatinya, yaitu film-film Indonesia menggunakan struktur film Barat. Karena itulah ia ingin membuat film dari oral history Indonesia. Ketika riset, Ismail menemukan hal mengejutkan bahwa dalam legenda-legenda Indonesia, posisi perempuan selalu ditempatkan di posisi yang lemah, malah tak punya kuasa untuk memilih jalan hidupnya. Karena itulah, film yang terinspirasi dari kisah ‘Dayang Sumbi’ ini membuat dan membangun sebuah relasi baru di dalam film, memposisikan wanita sebagai center, sebagai penggerak cerita. Dan, lewat perjalanan Asa, a girl that overcoming human’s biggest fear, by fight to own and to control her own life, Another Trip to the Moon sukses mempresentasikannya!

5

Menonton film ini, kita diajak menjelajahi cantiknya Gunung Lawu yang ditampilkan  sedikit dreamy dengan binatang-binatang yang terkadang datang. Dari binatang asli, robot mainan, hingga manusia setengah binatang, membangkitkan imajinasi kekanakan kita dan tampak begitu menenangkan. Cerita diawali dengan Asa (Tara Basro) yang kabur dari rumahnya karena konflik dengan ibunya (Endang Sukeksi) yang seorang cenayang (The Shaman), ditemani Laras (Ratu Anandita) teman setianya. Tanpa mereka berdua ketahui, ada The Black Dog Man, anjing bertubuh manusia kiriman The Shaman yang terus memata-matai mereka. Bodi fit kedua aktris cantik ini sangat terlihat, entah keduanya secara kebetulan atau sengaja dipilih untuk film ini, postur tubuh keduanya memang kuat. Dengan kamera yang ditaruh diam begitu saja atau still dan wide angle, memperlihatkan dari jauh aktivitas mereka dari bangun tidur, mandi di sungai, berburu, hingga tidur lagi selama seperempat pertama film. Asa dan Laras digambarkan memiliki hubungan yang unik dan tidak biasa. Laras seperti sosok pelindung, bersifat lebih dewasa dan perhatian, terus melindungi dan menghibur Asa yang terkadang terlihat bad mood. Jujur saja, petir yang menyambar-nyambar sangat mengagetkan kami. Asa baru merasa kehilangan saat Laras mati tersambar petir.

Another trip to the moon (Menuju rembulan) Ismail Basbeth 9

Hal-hal seru mulai terjadi dari sini! dimana hal-hal di luar logika mulai bermunculan, membuat kami memicingkan mata mencoba memikirkan maksudnya (tapi kami tidak mau spoiler ;)). Anyway, film ini memang sengaja dibuat Ismail Basbeth sangat absurd untuk memberi kebebasan penonton menginterpretasikan sendiri makna dan jalan ceritanya.

Another trip to the moon (Menuju rembulan) Ismail Basbeth 18

“Satu kata yang mewakili film ini, adalah ‘Rejection’,“ kata Ismail Basbeth, “sesuatu yang kita anggap menarik, namun menolak kehadiran kita. Tapi dunia lebih besar dari itu, life must go on, pada akhirnya kita harus melanjutkan hidup,” begitu kira-kira bunyi  filosofi dari Mas Ismail.

3

Para aktor dan aktris di film yang berjalan lambat serta teatrikal ini sedikit sekali menampilkan ekspresi wajah. Seringkali kami dibuat bingung karena ekspresi muka yang datar tersebut, membuat kami mencoba menerka apa yang ada di pikiran si tokoh. Pokoknya, semua aspek dalam film ini membuat kita terus bertanya-tanya dan berpikir sepanjang film!

Bagaimana, jadi penasaran, kan? Bagi Cinefellas yang belum menonton, masih ada minggu terakhir pemutaran filmnya di Kineforum! LET’S GOOO 😀

Another Trip to the Moon is more than just a trip, it’s a spiritual trip in reaching a pure freedom.

@mutshiaa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s